BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Ekspor & Impor

CORE: CPO dan turunannya tetap andalan ekspor; PKE dorong diversifikasi pasar nontradisional

14 Juli 2026|CPO andalan ekspor RI
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
CORE: CPO dan turunannya tetap andalan ekspor; PKE dorong diversifikasi pasar nontradisional

Kontainer dan tanker di pelabuhan ekspor saat senja, melambangkan arus ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar global.

(2026/07/14) Peneliti CORE menyatakan CPO dan produk turunannya tetap jadi andalan ekspor meski biodiesel serap domestik.

(2026/07/14) Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai crude palm oil (CPO) dan produk turunannya masih akan menjadi andalan ekspor perkebunan Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya proteksionisme perdagangan.

Eliza menyoroti prospek permintaan minyak nabati yang tetap kuat karena pertumbuhan populasi dan urbanisasi, sehingga CPO, palm kernel expeller (PKE), oleokimia, dan biodiesel memiliki peluang terbesar untuk meningkatkan ekspor saat ini.

Pengiriman 14.000 ton PKE dari Lampung ke Selandia Baru dijadikan contoh bahwa produk turunan sawit mampu memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari negara maju, menurut Eliza. Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Lampung mencatat pengiriman itu bernilai sekitar Rp20 miliar dan dilepas pada 3 Juli.

Data Karantina Lampung menunjukkan tren peningkatan ekspor PKE: pada 2024 tercatat 172 pengiriman dengan volume sekitar 569.000 ton senilai Rp2,58 triliun; pada 2025 meningkat menjadi 184 pengiriman dengan volume 1,34 juta ton senilai Rp3,12 triliun; dan Januari–Juni 2026 tercatat 66 pengiriman dengan volume sekitar 513.000 ton senilai Rp1,17 triliun.

Eliza mengingatkan tantangan yang masih membayangi ekspor sawit, termasuk isu deforestasi, legalitas lahan, rendahnya produktivitas, tingginya biaya logistik domestik, serta hambatan non-tarif dan standar keberlanjutan global yang harus dipenuhi eksportir.

Selain itu, Eliza memperkirakan volume ekspor sawit pada 2026 cenderung stagnan atau hanya meningkat tipis karena peningkatan penyerapan CPO untuk program biodiesel. Mandat biodiesel B40 serta potensi penerapan B50 pada akhir 2026 diperkirakan akan menyerap tambahan sekitar 1,7 juta hingga 2,2 juta ton CPO per tahun.

Eliza menilai pengembangan produk turunan bernilai tambah menjadi strategi untuk memperluas pasar ekspor, khususnya ke Afrika Sub-Sahara, Timur Tengah, dan Oseania. Ia juga menyatakan bahwa PKE, olein, dan oleokimia cenderung relatif lebih tahan terhadap gejolak dibandingkan CPO karena penggunaan yang lebih beragam.

Eliza menekankan bahwa keberhasilan penetrasi pasar nontradisional perlu direplikasi di daerah lain dan diikuti peningkatan jumlah eksportir agar berdampak pada perubahan struktural ekspor nasional, bukan sekadar momentum.

Dalam konteks komoditas lain, Eliza menilai prospek karet alam telah memasuki fase matang dengan persaingan dari karet sintetis, sementara kopi dan kakao memiliki nilai ekspor per ton tinggi namun skala produksi terbatas dan rentan cuaca, sehingga kontribusinya terhadap peningkatan ekspor nasional tidak sebesar sawit.

Sebagai catatan kebijakan yang relevan, penerapan B50 yang berpotensi menyerap tambahan 1,7–2,2 juta ton CPO per tahun menjadi katalis domestik utama bagi penyerapan produksi, sedangkan penguatan kemampuan memenuhi standar SPS dan keberlanjutan menjadi prasyarat akses pasar nontradisional seperti Selandia Baru.

Sumber: