BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Ekspor & Perdagangan

Dampak Tarif 32 Persen AS terhadap Ekspor Sawit Indonesia: Tanggapan GAPKI dan Petani

22 Februari 2026|Tarif Ekspor Sawit Indonesia
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Dampak Tarif 32 Persen AS terhadap Ekspor Sawit Indonesia: Tanggapan GAPKI dan Petani

Prabowo memberikan pidato di Brussels untuk membahas industri kelapa sawit Indonesia dan isu-isu terkait.

Tarif 32 persen yang dikenakan AS terhadap ekspor sawit Indonesia menuai reaksi dari berbagai pihak, termasuk GAPKI dan Serikat Petani Kelapa Sawit.

Kebijakan tarif impor sebesar 32 persen yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia memicu dampak yang signifikan bagi industri kelapa sawit nasional. Meskipun Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai dampak tersebut tidak akan terlalu parah, para petani sawit mengkhawatirkan penurunan ekspor ke Negeri Paman Sam.

Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI, Fadhil Hasan, menjelaskan bahwa meskipun tarif ini akan mempengaruhi ekspor, minyak sawit merupakan produk yang tidak mudah disubstitusi dengan produk lain. “Ya, itu akan berdampak ya tentu, karena kan begini, sawit itu merupakan salah satu trennya meningkat untuk ekspor sawit kita,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta.

Pada tahun 2024, ekspor sawit Indonesia ke AS tercatat sekitar 1,7 miliar USD, menunjukkan bahwa pasar ini sangat penting bagi industri sawit Indonesia. Namun, dengan adanya tarif yang tinggi, GAPKI mencemaskan penurunan signifikan dalam volume ekspor ke AS, meskipun Fadhil optimis bahwa dampak tersebut akan terkelola.

Di sisi lain, Mansuetus Darto, pendiri Serikat Petani Kelapa Sawit, memberikan pandangan yang lebih pesimis. Ia berpendapat bahwa kebijakan tarif ini akan menggerus ekspor minyak sawit (CPO) ke AS. “Kebijakan tarif Trump menurut saya akan menggerus ekspor sawit ke US. Ini kan harus ada cara-cara lain sebagai solusi,” ungkapnya.

Mansuetus menambahkan bahwa perang dagang yang terjadi berimbas pada harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, yang saat ini mengalami penurunan antara Rp 20-50 per kilogramnya. Para petani kini berada dalam posisi menunggu kepastian dari pemerintah terkait langkah-langkah yang akan diambil dalam menghadapi situasi ini, termasuk kemungkinan penghentian ekspor ke AS.

Dengan ketidakpastian yang melingkupi industri sawit akibat tarif baru ini, para pemangku kepentingan diharapkan dapat menemukan solusi yang efektif untuk melindungi ekspor dan kesejahteraan petani sawit di Indonesia. Mengingat pentingnya pasar AS bagi industri sawit, langkah-langkah strategis perlu diambil untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan sektor ini di masa mendatang.

Sumber:

  • Tarif 32 Persen AS Ancam Ekspor Sawit RI, GAPKI: Dampaknya Tak Signifikan — Hortus (2025-04-09)
  • Serikat Petani Sawit: Kebijakan Tarif Trump Bakal Gerus Ekspor ke AS — Kompas (2025-04-09)