Ekspor Sawit Indonesia Meningkat, Harga CPO Diprediksi Stabil di RM4,300

Pelabuhan eksklusif ini sibuk dengan aktivitas ekspor CPO, mendukung peningkatan angka ekspor sawit Indonesia.
Ekspor sawit Indonesia mencapai US$3,69 miliar pada Februari 2026, sementara harga CPO diperkirakan stabil di RM4,300 per ton sepanjang tahun.
(2026/04/21) Ekspor sawit Indonesia mengalami lonjakan signifikan dengan nilai mencapai US$3,69 miliar pada Februari 2026, seiring dengan meningkatnya permintaan global. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan bahwa produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) juga mencatatkan peningkatan, yang berkontribusi pada tren positif industri sawit nasional.
Produksi CPO pada Februari 2026 tercatat mencapai 5,015 juta ton, meningkat 4,96% dari bulan sebelumnya yang sebesar 4,778 juta ton. Selain itu, produksi minyak inti sawit (PKO) juga menunjukkan pertumbuhan dari 458 ribu ton menjadi 485 ribu ton. Kenaikan produksi ini menjadikan total produksi CPO dan PKO mencapai 5,5 juta ton, atau naik 5,04% dibandingkan Januari 2026.
Secara tahunan, kinerja produksi sawit Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif, dengan banyak faktor yang mendukung, termasuk peningkatan permintaan dari negara-negara pengimpor. Momen ini menjadi penting bagi industri sawit Indonesia, yang selama ini beroperasi di tengah tantangan global dan isu lingkungan.
- Kelapa Sawit: Komoditas Strategis Ekspor Kalimantan Tengah di Tahun 2023 (22 Februari 2026)
- Impor Minyak Sawit India Turun 19%, Harga CPO Diprediksi Stabil (13 April 2026)
- Aceh Catat Keuntungan Besar dari Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang (22 Februari 2026)
- Dinamika Harga Kelapa Sawit dan Ekspor Indonesia di Akhir 2024 (22 Februari 2026)
Di sisi lain, proyeksi harga untuk minyak sawit mentah menunjukkan stabilitas. BMI, unit dari Fitch Solutions, mempertahankan perkiraan harga rata-rata tahunan minyak sawit untuk tahun 2026 di RM4,300 per ton. Perkiraan ini mencakup fluktuasi harga per kuartal, dengan prediksi mencapai RM4,173 per ton untuk kuartal pertama (1Q) dan puncaknya di RM4,400 per ton pada kuartal kedua (2Q).
Proyeksi harga ini mencerminkan puncak yang didorong oleh biaya energi terkait konflik, yang diperkirakan akan diikuti dengan penurunan harga seiring meredanya risiko geopolitik dan dampak dari fenomena El Nino. Meskipun harga diperkirakan akan sedikit menurun, hal ini menunjukkan bahwa permintaan dan produksi yang kuat akan terus mendukung industri sawit Indonesia.
Dengan meningkatnya permintaan dan proyeksi harga yang stabil, industri sawit Indonesia tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan kinerja positif di sisa tahun 2026. Sejumlah pengusaha berharap dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan daya saing di pasar global dan menghadapi tantangan yang ada.
Sumber: