BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Korporasi & Bisnis

El Nino Picu Risiko Turunnya Produksi Sawit 2027, Stok CPO 2026 Diperkirakan Aman

1 September 2026|El Nino dan dampaknya pada sawit
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
El Nino Picu Risiko Turunnya Produksi Sawit 2027, Stok CPO 2026 Diperkirakan Aman

Logo GAPKI, organisasi pengusaha kelapa sawit Indonesia, memperkuat komitmen industri dalam keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya.

Gapki proyeksikan stok CPO akhir 2026 2,5-2,9 juta ton meski produksi 2027 bisa turun sekitar 3 juta ton akibat El Nino.

(2026/09/01) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan stok CPO akhir 2026 sebesar 2,5-2,9 juta ton meski El Nino berisiko menekan produksi pada 2027.

Gapki menyampaikan stok akhir tahun 2026 yang diperkirakan masih aman datang bersamaan dengan peringatan risiko produksi yang memburuk pada 2027 karena fenomena El Nino, sehingga pasar melihat kondisi saat ini sebagai stok yang menahan tekanan pasokan dekat‑term.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono menyatakan, "Stok akhir tahun 2026 seharusnya masih di sekitar 2,5-2,9 juta ton. Tidak ada pengetatan pasokan," dan ia menambahkan laporan cabang Gapki menunjukkan beberapa sentra sawit masih menerima hujan.

Eddy juga memperingatkan kemungkinan penurunan produksi sekitar 3 juta ton pada 2027 karena kombinasi hujan berlebih di beberapa wilayah dan periode kering di lainnya; ia menyebut Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu dan Kalimantan Utara masih mengalami hujan yang memengaruhi pola produksi.

Analisis independen dari Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) yang dikutip menunjukkan penurunan produksi lebih panjang: PASPI memproyeksikan produksi CPO Indonesia turun dari 51,6 juta ton pada 2025 menjadi sekitar 49,2 juta ton pada 2026, lalu menjadi sekitar 47,6 juta ton pada 2027 akibat dampak El Nino yang mulai terasa sejak kuartal III-2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons proyeksi Gapki dengan mengatakan dampak El Nino untuk sawit diperkirakan ada tetapi diharapkan tidak besar; Amran menyebut upaya pemerintah meliputi memastikan ketersediaan pupuk tepat waktu, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama, dan pengairan jika memungkinkan.

Amran menyampaikan data penanganan lahan terdampak yang spesifik: sekitar 30 ribu hektare lahan dilaporkan mengalami kekeringan dari total luas tanam sekitar 11 juta hektare, dan pemerintah menargetkan pemanfaatan lahan potensial lain seperti 100 ribu hektare di Jawa dengan sumber air untuk ditanami.

Soal biodiesel, Eddy memastikan ketersediaan pasokan CPO untuk implementasi B50 tidak menjadi masalah pada 2026 dengan pernyataannya, "Tahun ini 2026 ya, artinya tidak ada masalah dengan B50 di tahun ini."

Eddy juga menekankan bahwa pergerakan harga CPO tidak hanya ditentukan pasokan sawit domestik, melainkan juga ketersediaan minyak nabati lain seperti minyak bunga matahari, minyak kedelai, rapeseed, dan canola yang dapat menekan atau mendukung harga.

Gapki memperkirakan jika penurunan sekitar 3 juta ton terealisasi pada 2027, dampak akan lebih terasa pada ekspor karena pasokan domestik diprioritaskan; Gapki menempatkan proyeksi produksi sawit Indonesia 2026 pada 56,6 juta ton dalam konteks revisi estimasi sebelumnya.

Dari sisi respons pemerintah, Amran menyatakan langkah konkret yakni distribusi pupuk, pemeliharaan, pengendalian hama, pengairan di lahan terdampak, serta memanfaatkan lahan idle yang memiliki potensi sumber air, sebagai upaya mitigasi terhadap penurunan produksi.

Rangkaian pernyataan dan proyeksi tersebut menempatkan fokus pasar pada inventori CPO sampai akhir 2026 dan prospek produksi 2027; dampak El Nino diperkirakan mulai terlihat pada kuartal IV-2026 dan berlanjut sepanjang 2027 menurut PASPI.

Sumber: