Harga CPO dan TBS Sawit Turun, Minyak Goreng Rentan Naik di Pasar

Harga TBS kelapa sawit meningkat, memberikan harapan baru bagi petani di Indonesia amid tantangan industri.
Harga CPO dan TBS sawit di Sumatera Utara turun, sementara minyak goreng berpotensi naik akibat fluktuasi harga global.
(2026/04/24) Harga Crude Palm Oil (CPO) dan Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Sumatera Utara mengalami penurunan pada periode 24-28 April 2026. Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Pemprov Sumut, harga TBS untuk perusahaan bermitra kini dipatok sebesar Rp 3.906 per kg, turun dari sebelumnya yang mencapai Rp 3.949 per kg. Selain itu, harga CPO lokal dan ekspor juga menurun menjadi Rp 15.098 per kg, berkurang dari Rp 15.237 per kg pada periode sebelumnya.
Penurunan harga CPO dan TBS ini menjadi perhatian penting bagi industri sawit Indonesia, mengingat Sumatera Utara merupakan salah satu daerah penghasil utama kelapa sawit di tanah air. Harga kernel lokal tercatat sebesar Rp 15.828 per kg, juga mengalami penurunan dari Rp 16.115 per kg. Data ini menunjukkan adanya tekanan berkelanjutan pada harga komoditas sawit yang dapat berdampak pada pendapatan petani dan pelaku usaha di sektor ini.
Sementara itu, di tingkat nasional, harga minyak goreng diperkirakan akan mengalami kenaikan. Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif PASPI, Tungkot Sipayung, yang menjelaskan bahwa dinamika global, terutama lonjakan harga energi fosil dan CPO, berkontribusi terhadap fluktuasi harga minyak goreng. Dalam konteks ini, terdapat tiga jenis minyak goreng sawit yang beredar di pasar, masing-masing dengan karakteristik dan kebijakan harga yang berbeda.
Tungkot menjelaskan bahwa minyak goreng sawit kemasan premium yang dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke atas mengikuti mekanisme pasar dan tidak berada di bawah kontrol pemerintah. Sebaliknya, harga minyak goreng yang lebih terjangkau untuk masyarakat berpendapatan rendah masih dapat dipertahankan dengan intervensi yang tepat dari pemerintah. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian pasar.
Dengan kondisi harga CPO dan TBS yang menurun, serta potensi kenaikan harga minyak goreng, industri sawit harus bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar. Proyeksi untuk periode mendatang menunjukkan bahwa fluktuasi harga akan terus berlanjut, tergantung pada dinamika pasar global dan kebijakan yang diambil pemerintah. Kenaikan harga CPO dunia dapat memperburuk situasi dengan mendongkrak harga minyak goreng di dalam negeri, yang pada akhirnya akan berdampak pada daya beli masyarakat.
Fakta ini menegaskan pentingnya pemantauan yang ketat terhadap harga komoditas sawit, serta perlunya kebijakan yang responsif untuk mendukung petani dan pelaku industri. "Kestabilan harga adalah kunci untuk memastikan kesejahteraan petani dan keberlanjutan industri sawit ke depan," ujar Tungkot.
Sumber: