Indonesia Dorong Reformasi Pertanian di Konferensi WTO ke-14

Prabowo memberikan pidato penting tentang industri kelapa sawit di depan latar belakang bendera Merah Putih.
Indonesia menekankan pentingnya reformasi pertanian dalam diplomasi perdagangan multilateral menjelang Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-14 di Kamerun.
(2026/03/11) Indonesia menegaskan kembali perannya dalam diplomasi perdagangan multilateral saat memimpin Pertemuan Menteri G-33 yang diadakan secara virtual pada 9 Maret 2026. Dalam forum ini, Indonesia membahas konsolidasi reformasi pertanian yang akan dibawa ke dalam agenda Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-14 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang akan berlangsung pada 26-29 Maret 2026 di Kamerun.
Pertemuan tersebut dipimpin oleh Menteri Perdagangan RI Budi Santoso, yang menekankan bahwa KTM ke-14 harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali perundingan pertanian WTO yang selama beberapa tahun terakhir mengalami stagnasi. Reformasi pertanian menjadi sangat penting mengingat peran vital sektor ini dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian negara anggota.
Dalam konteks ini, Indonesia berupaya untuk mendorong negara-negara anggota WTO agar berkomitmen dalam mencapai kesepakatan yang lebih adil dan seimbang dalam perdagangan pertanian. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan akses pasar bagi produk pertanian dari negara berkembang, termasuk Indonesia, serta mengurangi hambatan perdagangan yang selama ini mengganggu pertumbuhan sektor pertanian global.
- Dampak Perang India-Pakistan dan Kerja Sama Indonesia-Malaysia dalam Industri Kelapa Sawit (23 Februari 2026)
- Indonesia dan Prancis Perkuat Kerja Sama Strategis Sementara CPOPC Memperkuat Posisi Global (23 Februari 2026)
- Indonesia Memperkuat Kerja Sama Perdagangan Internasional di Tengah Ketidakpastian Global (23 Februari 2026)
- Kedua Pemimpin Dunia Bersatu: Kerja Sama Strategis Indonesia-Perancis dan Kepemimpinan Baru CPOPC (23 Februari 2026)
Indonesia, sebagai salah satu negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, memiliki kepentingan yang kuat dalam pembahasan isu-isu terkait perdagangan pertanian. Keterlibatan aktif dalam pertemuan G-33 juga menjadi salah satu strategi untuk memastikan bahwa kepentingan negara-negara berkembang diperhatikan dalam kebijakan perdagangan internasional. Melalui konferensi ini, Indonesia berharap dapat menciptakan sinergi antara negara-negara penghasil produk pertanian untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi internasional.
Dengan adanya kesempatan ini, Indonesia berkomitmen untuk menjadi pionir dalam mempromosikan reformasi yang adil dan berkelanjutan di sektor pertanian, yang pada gilirannya akan bermanfaat bagi seluruh anggota WTO. Proses diplomasi ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi global yang lebih luas.
Sumber:
- Dari berbagai sumber