BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Diplomasi & Negosiasi

Indonesia Memperkuat Posisi Ekonomi dengan Perundingan dan Kerjasama Internasional

22 Februari 2026|Perundingan dagang Indonesia
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Indonesia Memperkuat Posisi Ekonomi dengan Perundingan dan Kerjasama Internasional

Prabowo menyampaikan pidato di PBB, membahas tantangan dan potensi industri kelapa sawit Indonesia.

Indonesia sedang berupaya mempercepat perundingan dagang dengan Uni Eropa dan memperkuat kerjasama di sektor migas, sementara tantangan dari China terhadap produk logam Indonesia semakin nyata.

Indonesia sedang menjalani fase penting dalam memperkuat posisinya di pasar global melalui berbagai inisiatif, termasuk perundingan dengan Uni Eropa dan kerjasama dengan mitra internasional di sektor migas. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini mengungkapkan pentingnya mempercepat penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) yang telah berlangsung selama sembilan tahun.

Dalam pertemuan virtual dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, Airlangga menegaskan bahwa perundingan ini bertujuan untuk membuka lebih banyak peluang pasar bagi produk Indonesia. I-EU CEPA diharapkan dapat menciptakan akses yang lebih baik untuk perdagangan barang dan jasa, investasi, serta harmonisasi regulasi. Dengan 19 putaran perundingan yang telah dilakukan, langkah ini diharapkan dapat memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Sementara itu, di sektor migas, PT Pertamina menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan besar, seperti ExxonMobil dari AS dan PetroChina, untuk meningkatkan produksi nasional. Henricus Herwin, SVP Strategy & Investment Pertamina, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan meningkatnya ketegangan di beberapa negara memerlukan kolaborasi yang lebih erat dengan mitra internasional. Kerjasama ini diharapkan dapat mendorong sektor migas sebagai salah satu motor penggerak perekonomian Indonesia.

Airlangga juga menyoroti kekhawatiran China terhadap produk logam, terutama baja, yang dihasilkan di Kawasan Ekonomi Khusus Teluk Weda Bay, Maluku Utara. Ia mengklaim bahwa fasilitas produksi di Weda Bay sangat kompetitif dan efisien, sehingga bisa menjadi ancaman bagi produk logam asal China. Biaya transportasi yang lebih rendah untuk bahan baku dari Australia ke Indonesia dibandingkan ke China semakin memperkuat posisi Indonesia di pasar logam global.

Namun, tantangan tetap ada. Mantan Menteri Venezuela, Ricardo Hausmann, mengingatkan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ambisius sebesar 8% pada tahun 2029, Indonesia perlu memperluas diversifikasi ekonominya. Saat ini, banyak upaya diversifikasi masih terfokus pada pemanfaatan bahan mentah seperti kelapa sawit. Hausmann berpendapat bahwa jika tidak ada inovasi dan pengembangan produk yang lebih luas, Indonesia mungkin melewatkan berbagai peluang yang dapat memperkuat perekonomian.

Dengan berbagai inisiatif ini, Indonesia berupaya menavigasi tantangan dan peluang di pasar global, sembari memperkuat kerjasama internasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sumber:

  • Percepat Penyelesaian Perundingan I-EU CEPA, Membuka Lebih Banyak Peluang Pasar โ€” Sawit Indonesia (2025-02-18)
  • Gencarkan Produksi Migas Nasional, Pertamina Gaet Mitra dari AS-China โ€” CNBC (2025-02-18)
  • Airlangga Sebut China Khawatir Produk Logam Asal RI, Kenapa โ€” CNBC (2025-02-18)
  • Mantan Menteri Venezuela Soroti Target Pertumbuhan Ekonomi RI 8% โ€” CNBC (2025-02-18)
  • Airlangga Sebut China Waswas Dengan Produk Baja RI, Ada Apa โ€” Detik (2025-02-18)