Indonesia Memperkuat Posisi Ekspor melalui Kemitraan dan Negosiasi Baru

Prabowo memberikan pidato di Brussels untuk membahas industri kelapa sawit Indonesia dan isu-isu terkait.
Indonesia melanjutkan langkah strategis untuk meningkatkan ekspor, terutama minyak kelapa sawit dan nikel, melalui kemitraan dengan Uni Eropa dan negosiasi dengan Amerika Serikat.
(2025/07/18) Indonesia menyaksikan perkembangan signifikan dalam sektor ekspor dengan disepakatinya kemitraan ekonomi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) serta upaya negosiasi dengan Amerika Serikat untuk menurunkan tarif bea masuk produk unggulan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Melalui IEU-CEPA, pemerintah Indonesia optimis dapat meningkatkan ekspor hingga 50 persen dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, Fithra Faisal, menjelaskan bahwa sekitar 80 persen produk unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit berkelanjutan, tekstil, dan hasil pertanian, akan mendapatkan bebas tarif atau preferensi tarif di pasar Eropa. Hal ini tidak hanya akan mendorong peningkatan ekspor tetapi juga penciptaan lapangan kerja baru di dalam negeri.
Di sisi lain, Indonesia juga tengah aktif melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai tarif bea masuk yang dikenakan pada produk ekspor seperti crude palm oil (CPO) dan nikel. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyatakan bahwa meskipun tarif untuk produk Indonesia telah diturunkan dari 32% menjadi 19%, masih ada ruang untuk negosiasi agar beberapa komoditas unggulan bisa dikenakan tarif 0%. Komoditas tersebut antara lain minyak kelapa sawit, kopi, coklat, rempah-rempah, nikel, dan suku cadang pesawat.
- Indonesia Memperkuat Kerja Sama Perdagangan Internasional di Tengah Ketidakpastian Global (23 Februari 2026)
- Perkembangan Ekonomi Indonesia: Dari Diplomasi Dagang hingga Ekspor Cangkang Sawit (23 Februari 2026)
- Kerja Sama Strategis Indonesia-Malaysia dalam Sektor Sawit dan Halal (23 Februari 2026)
- Kedua Pemimpin Dunia Bersatu: Kerja Sama Strategis Indonesia-Perancis dan Kepemimpinan Baru CPOPC (23 Februari 2026)
Upaya Indonesia untuk mendapatkan tarif nol persen ini tampak strategis, mengingat beberapa produk tersebut sangat dibutuhkan oleh pasar AS, tetapi tidak dapat diproduksi secara lokal. Hal ini memberikan keunggulan tersendiri bagi Indonesia dalam negosiasi, mengingat sumber daya tersebut hanya tersedia di tanah air. Dengan adanya kesepakatan ini, diharapkan produk-produk unggulan Indonesia dapat bersaing lebih baik di pasar internasional.
Selain itu, Indonesia juga melirik pasar baru di Afrika untuk ekspor sawit. Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, menjelaskan bahwa beberapa negara di Afrika telah menunjukkan minat untuk mempelajari cara mengembangkan industri kelapa sawit. Ini merupakan langkah cerdas Indonesia untuk memperluas pangsa pasar dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar tradisional, seperti Eropa dan Amerika, yang sering kali mengeluarkan regulasi ketat terhadap produk sawit.
Negosiasi yang berlangsung dengan AS akan terus dilakukan hingga kebijakan baru berlaku pada 1 Agustus 2025. Indonesia berharap melalui kombinasi kemitraan dengan Uni Eropa dan negosiasi yang aktif dengan AS, dapat mendorong pertumbuhan sektor ekspor dan meningkatkan kontribusi ekonomi nasional.
Sumber:
- Sederet Keuntungan Indonesia dalam Kemitraan Ekonomi IEU-CEPA โ MetroTV (2025-07-18)
- RI Tawar Ekspor Sawit dan Nikel dalam Pengecualian Tarif Dagang Terbaru dengan AS โ Kontan (2025-07-18)
- RI Masih Upayakan Sawit hingga Nikel Masuk AS dengan Tarif Nol Persen โ CNN (2025-07-18)
- Daftar Barang RI yang Dinegosiasikan Bebas Tarif ke AS, dari Kopi hingga Nikel โ Bisnis Indonesia (2025-07-18)
- Wamenlu Ungkap Indonesia Siap Ekspansi Sawit ke Afrika โ Kumparan (2025-07-18)
- RI Masih Nego biar CPO-Nikel Bebas Tarif Masuk AS โ Detik (2025-07-18)
- Negosiasi Masih Berlangsung, Indonesia Ingin CPO Hingga Nikel Bebas Tarif dari AS โ Kontan (2025-07-18)