BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Konservasi

Inovasi Pertanian Berkelanjutan di Tengah Ancaman Lingkungan

23 Februari 2026|Pertanian ramah lingkungan
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Inovasi Pertanian Berkelanjutan di Tengah Ancaman Lingkungan

Foto aerial menunjukkan kebun sawit yang luas di Indonesia, menyoroti perkembangan industri kelapa sawit yang pesat.

Pertanian ramah lingkungan dan penelitian mikroplastik menjadi fokus utama dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia.

Indonesia sedang berupaya meningkatkan ketahanan pangan dan kualitas tanah melalui praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Salah satu langkah inovatif datang dari Krakatau Posco yang melakukan kolaborasi strategis untuk memanfaatkan Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) sebagai pupuk yang dapat memperbaiki struktur tanah dan hasil pertanian. GGBFS, yang merupakan produk samping dari proses pembuatan baja, telah terbukti efektif dalam meningkatkan kesuburan tanah dan telah digunakan di negara lain seperti Korea Selatan dan Jepang.

Namun, tantangan yang dihadapi sektor pertanian tidak hanya berasal dari praktik pertanian itu sendiri, tetapi juga dari polusi yang lebih luas, seperti mikroplastik. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengungkapkan bahwa mikroplastik telah mencemari berbagai produk pertanian, termasuk benih kelapa sawit dan minyak goreng dari berbagai merek. Peneliti menemukan bahwa mikroplastik ini juga terdeteksi dalam hasil pertanian lainnya seperti kentang di Malang, serta produk hewani seperti susu dan telur. Temuan ini menunjukkan betapa mendesaknya isu mikroplastik yang sudah menjadi polutan yang omnipresent dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah upaya untuk memperbaiki praktik pertanian dan mengurangi pencemaran, tindakan penegakan hukum juga perlu dilakukan. Baru-baru ini, aparat kepolisian berhasil menangkap pelaku pembakaran lahan seluas 10 hektare di Rokan Hilir, Riau. Pembakaran lahan, yang dilakukan oleh seorang petani untuk membuka lahan baru, merupakan salah satu praktik yang merusak lingkungan dan berpotensi meningkatkan emisi karbon. Kapolres Rohil, AKBP Isa Imam Syahroni, mengungkapkan bahwa mereka bertindak cepat setelah menerima laporan mengenai titik api di lokasi tersebut, menunjukkan komitmen untuk menegakkan hukum dalam perlindungan lingkungan.

Kolaborasi antara sektor industri dan penelitian akademis sangat penting untuk menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan. Upaya pengembangan pupuk ramah lingkungan seperti GGBFS diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan ketahanan pangan sambil menjaga keberlanjutan lingkungan. Selain itu, kesadaran akan pencemaran mikroplastik yang meluas harus menjadi perhatian bagi semua pihak, termasuk petani, pengusaha, dan pemerintah. Dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, Indonesia dapat menuju pertanian yang lebih baik dan lebih bersih di masa depan.

Sumber:

  • Pertanian Ramah Lingkungan Bisa Diwujudkan dengan Cara Ini โ€” Detik (2025-05-16)
  • UMM Lakukan Riset Pertama di Dunia, Minyak Makan Merah Sawit Vs Mikroplastik โ€” Info Sawit (2025-05-16)
  • Polisi Tangkap Pelaku Pembakar 10 Hektare Lahan di Rokan Hilir Riau โ€” Detik (2025-05-16)