BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Uni Eropa & EUDR

Kesepakatan Perdagangan dan Peluang Ekspor Indonesia di Pasar Internasional

1 Agustus 2025|Kesepakatan Perdagangan Kelapa Sawit
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Kesepakatan Perdagangan dan Peluang Ekspor Indonesia di Pasar Internasional

Prabowo memberikan pidato di Brussels untuk membahas industri kelapa sawit Indonesia dan isu-isu terkait.

Indonesia terus mengukir prestasi di pasar global dengan menandatangani perjanjian perdagangan baru dan memperluas peluang ekspor, terutama dalam industri kelapa sawit dan produk ramah lingkungan.

(2025/08/01) Indonesia menyaksikan kemajuan signifikan dalam sektor perdagangan internasional, khususnya dalam komoditas kelapa sawit. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan bahwa perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) akan segera ditandatangani pada bulan September mendatang. Dalam kesepakatan ini, Indonesia mendapatkan tarif nol persen untuk ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, yang diharapkan dapat mencapai maksimal 1 juta ton per tahun ke Uni Eropa.

Airlangga menegaskan bahwa kesepakatan ini adalah langkah penting dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Selain itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, optimistis bahwa Indonesia dapat menjadi pemasok utama CPO ke Kanada, meskipun saat ini berada di posisi kedua. Pertemuan dengan Menteri Pertanian dan Pangan Kanada, Heath MacDonald, menunjukkan keinginan Kanada untuk memperkuat kerja sama di sektor ini.

Di sisi lain, sektor industri kreatif Indonesia juga menarik perhatian internasional. Lima pelaku industri kreatif asal Malaysia mengikuti workshop batik ramah lingkungan di Kampoeng Batik Laweyan, Solo, yang memperkenalkan malam sawit—batik berbasis stearin dari kelapa sawit berkelanjutan. Kegiatan ini menunjukkan meningkatnya minat terhadap produksi ramah lingkungan dan membuka peluang kerja sama lintas negara.

Secara keseluruhan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai ekspor Indonesia mencapai USD135,41 miliar pada paruh pertama tahun 2025, dengan sektor nonmigas menjadi pendorong utama. Meskipun nilai ekspor migas mengalami penurunan, ekspor nonmigas, termasuk produk industri pengolahan dan pertanian, mengalami peningkatan signifikan.

Namun, tantangan masih ada, terutama dalam menurunkan tarif ekspor ke pasar Amerika Serikat yang saat ini memberlakukan tarif dasar sebesar 19%. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, menegaskan pentingnya strategi negosiasi yang terukur untuk mendapatkan tarif preferensial bagi produk-produk yang tidak diproduksi di AS, seperti sawit dan rempah-rempah.

Airlangga juga menambahkan bahwa Indonesia harus memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan daya saing, terutama setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif bea impor untuk 92 negara mitra, termasuk Indonesia. Dengan adanya penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen untuk sejumlah komoditas, diharapkan Indonesia dapat memperkuat posisinya di pasar global.

Secara keseluruhan, langkah-langkah ini mencerminkan upaya Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses pasar, terutama dalam sektor kelapa sawit dan produk ramah lingkungan, yang semakin diminati di pasar internasional.

Sumber:

  • 1 juta Ton CPO Indonesia Bebas Tarif Impor Saat IEU-CEPA Disepakati — Sawit Indonesia (2025-08-01)
  • Pelaku Industri Kreatif Malaysia Ikuti Workshop Malam Batik Sawit di Laweyan — Info Sawit (2025-08-01)
  • Didominasi Tiongkok-AS, Ekspor RI Tembus USD135,41 Miliar — MetroTV (2025-08-01)
  • Mentan Amran Optimistis CPO RI Kompetitif di Pasar Kanada — Hortus (2025-08-01)
  • Apindo Ingin Sawit hingga Rempah RI Bebas Tarif Tinggi di AS — Kontan (2025-08-01)
  • Airlangga Pede Komoditas RI Unggul usai India Dikenai Tarif Trump 25 Persen — Kumparan (2025-08-01)
  • Bakal Bebas Bea Masuk, Ekspor CPO RI ke Eropa Maksimal 1 Juta Ton per Tahun — Kumparan (2025-08-01)
  • Dapat Perlakuan Khusus, Tarif CPO dan Nikel Masuk AS Kurang dari 19% — SINDOnews (2025-08-01)