BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Korporasi & Bisnis

Laba Bersih SSMS Tumbuh 41,6%, Pendapatan DSNG Mencapai Rp12,31 Triliun

1 April 2026|Laba bersih SSMS 2025
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Laba Bersih SSMS Tumbuh 41,6%, Pendapatan DSNG Mencapai Rp12,31 Triliun

Saham industri kelapa sawit Indonesia naik, menunjukkan tren positif dengan potensi dividen menarik bagi investor.

PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) mencatat laba bersih Rp1,16 triliun, sementara PT Dharma Satya Nusantara (DSNG) meraih pendapatan Rp12,31 triliun pada tahun 2025.

(2026/04/01) PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 41,6% menjadi Rp1,16 triliun pada tahun 2025, didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Sementara itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) juga menunjukkan kinerja positif dengan pendapatan sebesar Rp12,31 triliun.

SSMS mencatatkan total pendapatan sebesar Rp14,81 triliun, meningkat 42,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp10,37 triliun. Peningkatan ini dipicu oleh kinerja segmen perkebunan dan minyak serta lemak nabati yang masing-masing menyumbangkan Rp6,15 triliun dan Rp10,31 triliun. Meskipun mengalami eliminasi sebesar Rp5,76 triliun, penjualan bersih tetap menunjukkan tren positif.

Selain itu, laba bruto SSMS juga meningkat 57,8% menjadi Rp5,17 triliun, dari sebelumnya Rp3,28 triliun. Hal ini mencerminkan efisiensi operasional dan strategi pemasaran yang efektif. “Kami optimis dengan prospek ke depan, terutama dalam menghadapi tantangan pasar global,” ujar Direktur Utama SSMS.

Sementara itu, DSNG melaporkan pertumbuhan pendapatan sebesar 21,69% year-on-year, dari Rp10,12 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp12,31 triliun. Andrianto Oetomo, Direktur Utama DSNG, mengungkapkan bahwa segmen kelapa sawit tetap menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 88% dari total pendapatan, menunjukkan kekuatan industri sawit di tengah dinamika pasar.

Di sisi lain, perkembangan industri sawit tidak hanya terlihat dari kinerja keuangan, tetapi juga melalui inisiatif digitalisasi yang dilakukan oleh perusahaan. Mukti Plantation Group, misalnya, membuka lowongan untuk posisi Digital Content dan Data Support guna meningkatkan efisiensi operasional melalui pengelolaan data yang lebih baik. Langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat penetrasi digital di sektor perkebunan kelapa sawit.

Dalam konteks yang lebih luas, kawasan ekonomi khusus (KEK) Sei Mangkei di Sumatera Utara diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan industri, termasuk pengembangan produk turunan kelapa sawit seperti oleokimia. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri sawit dan meningkatkan nilai tambah produk.

Dengan semua perkembangan ini, industri sawit Indonesia menunjukkan ketahanan dan potensi pertumbuhan yang menjanjikan. “Kami akan terus berinovasi dan beradaptasi dengan tren pasar untuk memastikan bahwa industri sawit tetap menjadi pilar ekonomi nasional,” tambah Andrianto Oetomo. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana perusahaan-perusahaan ini akan mengatasi tantangan keberlanjutan di masa depan dalam industri yang semakin kompetitif?

Sumber: