Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan CPO dan Permintaan Biodiesel

Gambar menunjukkan minyak goreng berkualitas tinggi, produk hilir penting dari industri kelapa sawit Indonesia yang terus berkembang.
Kenaikan harga minyak dunia memicu lonjakan harga CPO dan permintaan dari sektor biodiesel, berpengaruh pada industri sawit Indonesia.
(2026/03/09) Lonjakan harga minyak dunia yang mencapai 25% sejak awal Maret 2026, akibat konflik di Timur Tengah, berdampak langsung pada harga minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia. Harga CPO melonjak pada Senin (9/3), mencatat kenaikan terbesar dalam tiga tahun terakhir dan mendorong permintaan dari sektor biodiesel.
Harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh US$ 119,50 per barel dipicu oleh ketegangan antara Iran dan sekutu-sekutunya, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kenaikan harga ini menjadi sinyal positif bagi industri sawit Indonesia, yang menghadapi tantangan dari permintaan yang fluktuatif dan ketegangan dagang yang meningkat.
Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange melonjak 6,78 persen, menjadi 4.663 ringgit Malaysia per ton. Sebelumnya, harga sempat menyentuh angka 4.803 ringgit, level tertinggi dalam lebih dari setahun. Analis pasar menyatakan bahwa lonjakan ini mencerminkan ekspektasi bahwa harga minyak mentah yang meningkat akan mendorong permintaan bagi bahan baku biodiesel.
- Harga TBS Sawit Sumut Terkoreksi Tipis, CPO Turun ke Rp14.999 (29 Maret 2026)
- Harga CPO dan Biodiesel Naik, Petani Perlu Waspada (2 April 2026)
- Harga CPO Malaysia Capai Puncak Tertinggi dalam 15 Bulan (5 April 2026)
- Harga CPO April 2026 Naik 5,41% Jadi USD 989,63 per MT di Tengah Ketegangan Geopolitik (1 April 2026)
Di sisi lain, harga tandan buah segar (TBS) sawit di Sumatra Utara juga mengalami kenaikan, mencapai Rp3.593,33 per kilogram, seiring dengan kenaikan harga CPO yang saat ini ditransaksikan di level Rp14.278,19 per liter. Kenaikan ini diharapkan dapat memberikan keuntungan lebih bagi petani sawit yang menjadi mitra pemerintah.
Namun, meski pasokan minyak sawit global diperkirakan akan pulih pada tahun 2025 dan produksi Indonesia serta Malaysia mencapai rekor tertinggi, ketegangan di pasar energi dan kebijakan bioenergi baru dapat menyebabkan volatilitas harga. Kenaikan harga pakan ternak akibat lonjakan harga bahan baku juga mendorong peternak beralih menggunakan bungkil inti sawit sebagai alternatif yang lebih ekonomis.
Ke depan, analisis menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan CPO dari sektor biodiesel, di mana minyak sawit kini diperdagangkan dengan diskon besar dibandingkan gasoil. Hal ini memberikan peluang bagi industri sawit Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar, terutama di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Peningkatan permintaan dari sektor biodiesel dapat menjadi angin segar bagi industri sawit Indonesia yang selama ini tertekan oleh fluktuasi harga dan permintaan global. Dengan strategi yang tepat, Indonesia bisa memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen utama minyak sawit dunia.
Sumber:
- Harga Minyak Sudah Melonjak 25 Persen Sejak Perang Iran Meledak โ Berita Satu (2026-03-09)
- Harga Sawit yang Tak Lagi Patuh pada Fundamental โ Info Sawit (2026-03-09)
- Harga TBS Sawit Sumut Kembali Naik ke Rp3.593,33 per Kg โ Bisnis Indonesia (2026-03-09)
- Lonjakan Harga Minyak Picu Reli CPO Terbesar dalam 3 Tahun โ Sawit Indonesia (2026-03-09)
- Harga Minyak Dunia Meroket, Prabowo Singgung BBM dari Sawit Dkk โ CNN (2026-03-09)
- Harga Pakan Mahal Bungkil Inti Sawit Jadi Alternatif Murah, Efisiensi Capai 20 Persen โ Elaeis (2026-03-09)
- Konflik Timur Tengah Berpotensi Mendorong Permintaan CPO dari Sektor Biodiesel โ Kontan (2026-03-09)
- Middle East conflict could spur palm oil demand from biodiesel sector โ Reuters (2026-03-09)