Peningkatan Kesiapsiagaan Karhutla di Sumatera Selatan dan Inisiatif Agroforestri di Pará

Gambar ini menunjukkan kebun sawit yang luas di Indonesia, terlihat dari sudut pandang udara.
Kesiapsiagaan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan semakin menjadi fokus di Sumatera Selatan, sementara inisiatif agroforestri di Pará, Brasil, menunjukkan harapan bagi keberlanjutan lingkungan.
Kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan menjadi prioritas utama bagi pemerintah. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengeluarkan ultimatum kepada perusahaan perkebunan sawit untuk segera mempersiapkan peralatan dan sumber daya manusia dalam rangka mencegah potensi kebakaran yang dapat merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Dalam pernyataannya, Hanif menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan yang tidak memenuhi syarat kesiapan dalam dua minggu ke depan akan menghadapi sanksi administratif sesuai dengan UU No. 32 Tahun 2009. Ini merupakan langkah tegas untuk memastikan bahwa setiap pemegang konsesi lahan memiliki rencana yang jelas dalam menghadapi musim kemarau, yang dikenal membawa risiko tinggi terhadap karhutla.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan dalam pengelolaan lahan gambut yang luas di wilayahnya, yang mencapai 1,4 juta hektare. Dengan lahan gambut yang menjadi salah satu penyebab utama kebakaran, Deru meminta perusahaan untuk turut serta dalam perlindungan dan pemantauan lahan gambut agar tidak terjadi kebakaran yang merusak.
- Inisiatif Penelitian dan Tantangan Lingkungan di Indonesia: Dari Papua hingga Riau (23 Februari 2026)
- Kesadaran Lingkungan Meningkat di Kalangan Konsumen Minyak Sawit di Tengah Ancaman Satwa Liar (22 Februari 2026)
- Dugaan Korupsi dan Restorasi Lingkungan di Taman Nasional Tesso Nilo (23 Februari 2026)
- Inisiatif Lingkungan dalam Industri Sawit: Dari Batik Ramah Lingkungan hingga Pencegahan Kebakaran (23 Februari 2026)
Sementara itu, di belahan dunia lain, inisiatif agroforestri di Pará, Brasil, menunjukkan contoh positif dalam menjaga keseimbangan antara penghidupan manusia dan kelestarian lingkungan. Program yang diprakarsai oleh CIFOR-ICRAF ini berfokus pada pemulihan lahan dan penguatan komunitas lokal melalui praktik pertanian berkelanjutan. Komunitas caboclo, masyarakat adat, dan pendatang di wilayah tersebut telah beralih dari praktik pertanian konvensional yang merusak menjadi metode yang lebih ramah lingkungan, termasuk agroforestri.
Dengan meningkatnya kesadaran akan dampak negatif dari penebangan hutan dan pertanian monokultur, para petani di Pará kini lebih memilih pendekatan yang tidak hanya menjaga kesuburan tanah tetapi juga memperbaiki kualitas air. Kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat lokal dalam pelatihan serta praktik terbaik menunjukkan harapan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan di kawasan Amazon.
Tantangan yang dihadapi di Sumatera Selatan dan upaya yang dilakukan di Pará mencerminkan kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan strategi keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam. Dengan kerjasama yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, diharapkan langkah-langkah preventif dapat mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, sambil mempromosikan praktik pertanian yang ramah lingkungan.
Sumber:
- Minister Lingkungan Hidup Ultimatum Perusahaan Sawit Antisipasi Karhutla — Kumparan (2025-05-24)
- Menteri Lingkungan Hidup Ancam Pidanakan Pengusaha Sawit, soal Apa — Kompas (2025-05-24)
- Menteri LH Ancam Pemegang Konsesi di Sumsel yang Tak Cegah Karhutla — Detik (2025-05-24)
- Lahan Gambut 1,4 Juta Hektare, Herman Deru Minta Perusahaan Proteksi Karhutla — Detik (2025-05-24)
- Agroforestri di Pará, Peru: Menjaga Hutan, Menyuburkan Tanah, Menguatkan Komunitas — CIFOR (2025-05-24)