Dampak Degradasi Lahan Gambut Terhadap Lingkungan dan Industri Kelapa Sawit di Peru

Pabrik kelapa sawit ini menghasilkan limbah POME yang mencemari lahan, menunjukkan dampak negatif industri terhadap lingkungan.
Studi terbaru menunjukkan bahwa degradasi lahan gambut akibat industri kelapa sawit di Peru memiliki dampak yang lebih besar terhadap emisi gas rumah kaca daripada deforestasi.
Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap kelapa sawit, sebuah studi terbaru mengungkapkan dampak serius dari degradasi lahan gambut di Peru. Penelitian yang dilakukan oleh CIFOR-ICRAF menunjukkan bahwa praktik panen yang tidak berkelanjutan pada lahan gambut di hutan Amazon telah menyebabkan emisi gas rumah kaca yang signifikan, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan deforestasi.
Lapisan gambut yang tebal di wilayah rawa sawit menyimpan karbon dalam jumlah besar, dan penebangan pohon serta pembukaan lahan mengakibatkan pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer. Menurut peneliti Kristell Hergoualc’h, degradasi lahan gambut ini sering kali diabaikan dalam kebijakan dan laporan emisi, padahal data menunjukkan bahwa emisi dari degradasi lahan gambut harus dipertimbangkan secara serius dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Temuan ini menekankan perlunya perhatian yang lebih besar terhadap kebijakan lingkungan yang dapat mencegah meluasnya ekspansi lahan gambut untuk industri kelapa sawit. Hergoualc’h menambahkan bahwa banyak negara, termasuk Peru, belum memiliki data yang memadai mengenai degradasi hutan, sehingga sulit untuk merancang strategi yang efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
- BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal dan Kering, Waspadai Dampak Lingkungan (28 Maret 2026)
- Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia Raih Penghargaan untuk Pengelolaan Emisi Karbon (23 Februari 2026)
- Kelapa Sawit Menjadi Minyak Nabati Paling Ramah Lingkungan (25 Maret 2026)
- Penang Olah Limbah Makanan Bazaar Ramadan Jadi Kompos dan Biodiesel (9 Maret 2026)
Selain itu, studi ini juga menggarisbawahi pentingnya melestarikan ekosistem rawa sawit, seperti Mauritia flexuosa, yang memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan karbon di lingkungan. Dengan meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan dari industri kelapa sawit, kini saatnya bagi pemangku kepentingan untuk melakukan perubahan yang diperlukan demi keberlanjutan ekosistem dan industri itu sendiri.
Melihat konteks ini, industri kelapa sawit harus beradaptasi dengan praktik berkelanjutan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan. Upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari degradasi lahan gambut dapat menjadi langkah awal yang signifikan dalam mencapai tujuan keberlanjutan global, terutama di negara-negara penghasil kelapa sawit seperti Peru.
Sumber:
- Studi Terbaru Ungkap Ruang Lingkup dan Dampak Degradasi Lahan Gambut Peru — CIFOR (2024-07-09)