BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Ekspor & Impor

Harga CPO Dunia Tertekan Akibat Penahanan Pembelian India dan Tiongkok

26 Maret 2026|Pembelian minyak sawit India
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Harga CPO Dunia Tertekan Akibat Penahanan Pembelian India dan Tiongkok

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.

Harga CPO global mengalami tekanan seiring dengan penahanan pembelian oleh India, meskipun permintaan dari China memberikan harapan bagi pasar.

(2026/03/26) Harga CPO dunia mengalami penurunan seiring dengan keputusan importir minyak nabati terbesar, India, untuk menahan pembelian minyak sawit. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap keyakinan bahwa lonjakan harga akibat konflik di Iran tidak akan bertahan lama, dengan pelaku industri memilih menunggu harga kembali turun sebelum mengisi kembali stok mereka.

India, yang merupakan konsumen utama minyak sawit, telah mengurangi pembelian minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari. Hal ini berpotensi menahan kenaikan harga minyak sawit dari Malaysia dan minyak kedelai dari Amerika Serikat. Sebelumnya, harga minyak sawit sempat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun, namun langkah penahanan ini bisa berdampak signifikan pada pasar global.

Data terbaru menunjukkan bahwa harga referensi CPO untuk bulan Maret 2026 telah ditetapkan pada USD 938,87 per metrik ton, terangkat oleh lonjakan permintaan sebelumnya dari India dan Tiongkok. Meskipun India kini menahan pembelian, permintaan dari Tiongkok tetap menjadi pendorong penting dalam penetapan harga. Kementerian Perdagangan mengindikasikan bahwa permintaan dari kedua negara ini berdampak pada penyesuaian tarif Bea Keluar dan Pungutan Ekspor, yang bisa memberikan sinyal positif bagi pasar.

Dalam konteks yang lebih luas, impor minyak sawit India mencatat lonjakan sebesar 51% pada Januari 2026 dibandingkan bulan sebelumnya, dipicu oleh selisih harga yang semakin lebar antara sawit dan minyak kedelai. Para analis mencatat bahwa diskon yang ditawarkan oleh minyak kedelai menyebabkan kilang penyulingan di India meningkatkan pembelian minyak sawit, mendorong volume perdagangan yang lebih tinggi.

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa jika India melanjutkan penahanan pembelian dalam jangka waktu yang lebih lama, harga CPO global dapat mengalami tekanan lebih lanjut. Hal ini menciptakan tantangan bagi petani dan produsen di Indonesia, yang sangat bergantung pada harga jual untuk keberlangsungan usaha mereka.

Keputusan India ini mencerminkan ketidakpastian di pasar global dan berpotensi mengubah pola perdagangan minyak nabati dalam waktu dekat. Apakah langkah ini akan memicu penyesuaian strategi bagi pelaku industri sawit Indonesia? Hanya waktu yang akan menjawab.

Sumber: