Harga CPO Menguat 0,90% di Tengah Lonjakan Permintaan dan Biaya Produksi

Gambar menunjukkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang dihasilkan dari buah kelapa sawit segar di Indonesia.
Harga CPO naik 0,90% menjadi MYR 4.582 per ton, sementara biaya produksi meningkat akibat kelangkaan pupuk dan biaya bahan baku yang melonjak.
(2026/03/12) Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan di Bursa Malaysia, mencapai MYR 4.582 per metrik ton setelah naik 0,90% pada Jumat, 13 Maret 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia dan permintaan yang terus meningkat.
Peningkatan harga CPO menjadi perhatian utama bagi industri sawit Indonesia, mengingat negara ini merupakan salah satu produsen utama CPO di dunia. Dalam sepekan terakhir, harga CPO telah melonjak hingga 7,2% seiring dengan kenaikan harga minyak nabati pesaing. Kenaikan harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang mencapai 9,72% dan Brent yang melonjak 9,22%, memicu optimisme di kalangan pengusaha sawit.
Namun, industri sawit juga menghadapi tantangan serius. Kenaikan biaya produksi akibat kelangkaan pupuk dan bahan baku semakin mempengaruhi pelaku industri. Sejak awal tahun, harga pupuk urea mengalami lonjakan dari Rp420 menjadi Rp720 per kilogram, sementara ketersediaannya semakin menipis. Hal ini diungkapkan oleh H. Yahya Taufik, President Director PT Saraswanti Anugerah Makmur, yang menekankan dampak dari ketegangan geopolitik sebagai penyebab utama.
- Harga CPO Diprediksi Naik hingga RM4.600 per Ton di 2026 (5 April 2026)
- Harga CPO April 2026 Naik 5,41% Jadi USD 989,63 per MT di Tengah Ketegangan Geopolitik (1 April 2026)
- Harga CPO Tembus Rp15.600 di Tengah Penahanan Pembelian India (27 Maret 2026)
- Harga CPO Diproyeksi Meningkat Hingga USD 1.783 pada Juni 2026 (4 April 2026)
Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat stagnansi produksi sawit selama lima tahun terakhir. Dalam konferensi pers baru-baru ini, Sekretaris Jenderal GAPKI, Hadi Sugeng Wahyudiono, mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan CPO yang tidak diimbangi dengan produksi yang memadai dapat mengancam eksistensi ekspor Indonesia. Menurut GAPKI, program replanting yang lambat menjadi salah satu alasan utama stagnansi tersebut.
Meski demikian, kinerja ekspor sawit Indonesia mencatatkan angka yang positif. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor sawit Indonesia mencapai sekitar US$35,87 miliar, meningkat dibandingkan dengan US$27,76 miliar pada tahun sebelumnya. Volume ekspor juga melonjak menjadi 32,3 juta ton, menunjukkan daya tahan industri sawit di tengah tantangan global.
Di tengah kondisi ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa harga minyak goreng, termasuk Minyakita, tidak terpengaruh oleh proyeksi kenaikan harga CPO. Ia mencatat tren penurunan harga Minyakita di beberapa daerah, yang berpotensi memberikan angin segar bagi konsumen di tengah ketidakpastian pasar.
Ke depan, industri sawit Indonesia perlu merespons tantangan regulasi dan biaya produksi yang meningkat agar tetap kompetitif di pasar global. Dengan proyeksi harga CPO yang dapat mencapai USD 1.050 per ton, pelaku industri harus bersiap menghadapi fluktuasi pasar dan memanfaatkan peluang yang ada.
Sumber:
- Harga CPO Merajalela, Pengusaha Sawit Pesta Terus โ CNBC (2026-03-12)
- Pengusaha Sawit Resah Pupuk Tiba-Tiba Langka & Harga Naik, Ada Apa โ CNBC (2026-03-12)
- GAPKI Sebut Stagnansi Produksi Sawit Ancaman Ekspor CPO Indonesia โ Hortus (2026-03-12)
- Mendag Sebut Kenaikan CPO Tak Pengaruhi Harga Minyakita โ Liputan6 (2026-03-12)
- Di Tengah Tekanan Global, Ekspor Sawit Indonesia Naik Jadi Rp500 Triliun โ Sawit Indonesia (2026-03-12)
- Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Kamis (12 per 3), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat โ Info Sawit (2026-03-12)
- Ekspor Naik, Tapi Daya Saing Sawit Tertekan Regulasi โ Sawit Indonesia (2026-03-12)