BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Kenaikan Harga Sawit di Riau Tembus Rp4.075 per Kg pada April 2026

7 April 2026|Harga Sawit dan Mesin Bioekonomi
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Kenaikan Harga Sawit di Riau Tembus Rp4.075 per Kg pada April 2026

Pekerja sawit mengangkat tandan buah segar (TBS) di perkebunan kelapa sawit Indonesia untuk distribusi industri.

Harga kelapa sawit di Riau mengalami kenaikan signifikan, dengan TBS swadaya mencapai Rp4.007 dan plasma Rp4.075 per kilogram, memberikan wajah baru bagi petani.

(2026/04/07) Harga kelapa sawit di Provinsi Riau mengalami lonjakan yang signifikan, dengan Tandan Buah Segar (TBS) swadaya mencapai Rp4.007 per kilogram dan TBS plasma mencapai Rp4.075,41 per kilogram. Kenaikan harga ini terjadi dalam konteks pertumbuhan kontribusi devisa dari sektor sawit yang tercatat meningkat 29,2 persen pada tahun 2025 menjadi US$35,868 miliar atau sekitar Rp603 triliun.

Lonjakan harga ini memberikan kabar gembira bagi para petani kelapa sawit, terutama di Riau, di mana harga TBS ditetapkan dalam rapat Dinas Perkebunan Riau pada 7 April 2026. Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Defris Hatmaja, menjelaskan bahwa harga TBS minggu ke-11 tahun 2026 ini telah mengacu pada regulasi terbaru, termasuk Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Hal ini menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk memastikan harga yang adil bagi petani.

Dalam pernyataannya, Kadisbun Riau, Supriadi, mengingatkan petani untuk tidak terlena dengan kondisi ini. Ia menyarankan agar petani memanfaatkan momen kenaikan harga dengan meningkatkan pemeliharaan dan perawatan tanaman mereka. “Pemeliharaan yang maksimal pada budidaya akan berdampak langsung terhadap produksi dan kualitas sawit ke depan,” ungkapnya.

Peningkatan harga TBS juga dipengaruhi oleh naiknya harga CPO yang saat ini mencapai Rp16.048,90 per kilogram, mengalami kenaikan sebesar Rp507,28 dibandingkan minggu lalu. Sementara itu, harga kernel juga mengalami kenaikan menjadi Rp15.699,64 per kilogram, naik sebesar Rp421,92. Kenaikan harga CPO dan kernel ini menjadi pendorong bagi harga TBS, baik swadaya maupun plasma.

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa jika tren kenaikan harga ini berlanjut, akan ada dampak positif bagi kesejahteraan petani dan perekonomian daerah. Namun, tetap ada tantangan yang harus dihadapi, termasuk potensi fluktuasi harga yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih berkelanjutan dan efisien dalam budidaya kelapa sawit menjadi penting untuk memastikan keberlangsungan produksi di masa depan.

Dengan kontribusi devisa yang terus meningkat, industri sawit Indonesia diharapkan dapat bertransformasi menjadi fondasi bioekonomi yang lebih modern dan berdaya saing. Kenaikan harga ini tidak hanya menjadi kabar baik bagi petani, tetapi juga tantangan untuk menjaga kestabilan dan keberlanjutan sektor ini di tengah ketidakpastian ekonomi global. “Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki praktik budidaya dan meningkatkan daya saing di pasar global,” pungkas Defris Hatmaja.

Sumber: