Kenaikan Harga TBS dan CPO di Tengah Ketidakpastian Global

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.
Kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) dan minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi pasar global dan konflik internasional.
(2026/03/03) Indonesia menyaksikan kenaikan signifikan dalam harga Tandan Buah Segar (TBS) dan minyak sawit mentah (CPO), memberikan harapan baru bagi para petani sawit di tengah ketidakpastian global. Dinas Perkebunan Provinsi Riau mengumumkan bahwa harga TBS kelapa sawit mitra swadaya untuk periode 4 hingga 10 Maret 2026 akan naik menjadi Rp3.552,39 per kilogram. Kenaikan ini terpantau dalam rapat penetapan harga yang dipimpin oleh Kabid Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Defris Hatmaja.
Harga TBS yang meningkat ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi para petani, khususnya di Riau dan Kalimantan Timur. Di Kalimantan Timur, harga rata-rata TBS untuk tanaman berumur 3 tahun mencapai Rp2.863,67 per kilogram, dan untuk tanaman berumur 4 tahun sebesar Rp3.053,00 per kilogram. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ahmad Muzakkir, menyatakan bahwa kenaikan harga ini didorong oleh penguatan harga CPO di pasar global dan meningkatnya permintaan.
Kenaikan harga CPO juga terlihat di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), yang menetapkan harga CPO sebesar Rp14.500/kg pada 2 Maret 2026, naik Rp100/kg atau sekitar 0,69% dibandingkan dengan harga sebelumnya. Hal ini sejalan dengan penguatan harga CPO di Bursa Malaysia, yang dipicu oleh peningkatan harga minyak mentah dunia akibat konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
- Harga Sawit Jambi Mencapai Rp3.669 per Kg di Pabrik (30 Maret 2026)
- Harga CPO KPBN Naik 1,57% pada 26 Maret, Perdagangan Bursa Malaysia Menguat (26 Maret 2026)
- Harga CPO Diprediksi Naik hingga RM4.600 per Ton di 2026 (5 April 2026)
- Harga CPO Menguat di Tengah Fluktuasi Ringgit dan Permintaan Ekspor (30 Maret 2026)
Konflik ini berpotensi menambah tekanan pada harga CPO, yang dapat berdampak langsung pada petani sawit di Indonesia. Menurut Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Rino Afrino, jika India, yang mengimpor 60% kebutuhan CPO dari Indonesia, menahan pembelian akibat harga yang terlalu tinggi, maka akan ada masalah besar bagi para petani di dalam negeri.
Di tengah situasi ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga melakukan kajian terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk produk MinyaKita, yang saat ini ditetapkan pada Rp15.700 per liter. Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menyatakan bahwa kajian ini penting mengingat harga CPO yang terus naik, yang mempengaruhi biaya produksi dan potensi kerugian bagi produsen.
Dengan segala dinamika yang terjadi, para petani sawit diharapkan dapat memanfaatkan kenaikan harga ini, namun tetap perlu waspada terhadap fluktuasi pasar global yang dapat mempengaruhi daya beli dan permintaan. Kenaikan harga ini menjadi sinyal positif, tetapi juga mengingatkan semua pihak untuk tetap beradaptasi dengan kondisi yang selalu berubah.
Sumber:
- Harga TBS Sawit Swadaya Riau Naik Lagi, Tembus Rp3.552,39 per Kilogram โ Media Center Riau (2026-03-03)
- Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Senin (2 per 3), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat Imbas Konflik di Timteng โ Info Sawit (2026-03-03)
- Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak โ Kompas (2026-03-03)
- Bapanas Kaji HET MinyaKita di Tengah Kenaikan Harga CPO โ Kompas (2026-03-03)
- Petani Sawit Kaltim Nikmati Kenaikan Harga TBS โ RRI (2026-03-03)