BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Korporasi & Bisnis

PalmCo Jadi Pengelola Perkebunan Sawit Terbesar Dunia dengan 586 rb Ha; Implikasi Pasokan dan Biodiesel

18 Agustus 2026|Perusahaan sawit lahan terluas
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
PalmCo Jadi Pengelola Perkebunan Sawit Terbesar Dunia dengan 586 rb Ha; Implikasi Pasokan dan Biodiesel

Logo PTPN 4 Palmco, perusahaan perkebunan negara, mencerminkan komitmen terhadap industri kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan.

(2026/08/18) PalmCo, subholding PTPN IV, tercatat mengelola 586.000 hektare kebun inti sawit dan berpotensi 708.000 Ha dalam satu dekade.

(2026/08/18) PalmCo, subholding perkebunan PT Perkebunan Nusantara IV, tercatat mengelola 586.000 hektare kebun inti sawit sehingga menjadi pengelola lahan sawit terbesar di dunia menurut riset CNBC Indonesia.

Pergeseran posisi itu terjadi setelah restrukturisasi PTPN Group yang mengintegrasikan aset-aset perkebunan ke dalam PalmCo, sehingga luas lahan yang dikelola melonjak dan menyalip SD Guthrie Berhad yang memiliki 568.323 hektare.

Dokumen perusahaan terbaru PalmCo mencatat luas kebun inti sebesar 570.887,84 hektare, sementara laporan April 2024 menyebutkan angka sekitar 586.000 hektare setelah kerja sama operasi dengan PT Perkebunan Nusantara I berlaku efektif.

PalmCo juga menyatakan jaringan kemitraan dengan petani swadaya seluas 219.503 hektare, yang setara dengan 38,63% dari luas kebun inti perusahaan, sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan tandan buah segar.

Di urutan berikutnya, Golden Agri-Resources dilaporkan mengelola sekitar 530.000 hektare hingga kuartal I-2026, FGV Holdings 324.563 hektare, Kuala Lumpur Kepong 301.090 hektare, dan Astra Agro Lestari 284.831 hektare, menurut kompilasi data CNBC Indonesia Research.

CNBC Indonesia Research mencatat bahwa meski luas areal memberi basis produksi yang besar, faktor lain seperti produktivitas tanaman, komposisi umur pohon, efisiensi operasional, dan keberhasilan program peremajaan menjadi penentu kinerja jangka panjang perusahaan-perusahaan sawit.

Golden Agri-Resources dalam laporan kuartal I-2026 menyebutkan tantangan produksi akibat siklus peremajaan tanaman, potensi El Niño, dan biaya input yang tinggi sebagai faktor yang masih membayangi pasokan sawit global.

Permintaan biodiesel dilaporkan meningkat di beberapa wilayah, termasuk Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan Thailand, seiring kenaikan harga energi, sehingga permintaan terhadap bahan baku CPO turut meningkat menurut CNBC Indonesia Research.

Peningkatan luas lahan PalmCo dikatakan memberi perusahaan "basis produksi yang besar" untuk merespons permintaan biodiesel yang menguat, namun laporan menekankan bahwa besarnya areal bukan satu-satunya penentu daya saing.

Dengan angka-angka yang dipublikasikan, PalmCo diproyeksikan dalam dokumen perusahaan bisa menyentuh 708.000 hektare dalam satu dasawarsa, suatu target yang menunjukkan rencana ekspansi dan konsolidasi aset dalam kelompok PTPN Group.

Implikasi langsung dari konsolidasi ini termasuk potensi peningkatan pasokan tandan buah segar domestik dan kapasitas produksi CPO, namun laporan CNBC Indonesia Research mengingatkan bahwa realisasi output juga bergantung pada program peremajaan dan efisiensi operasional.

Sumber data perusahaan, laporan kuartal, dan dokumen restrukturisasi menjadi dasar klaim peringkat luas lahan yang disusun oleh CNBC Indonesia Research.

Sumber: