Penurunan Ekspor Sawit dan Kenaikan Harga CPO Menjadi Sorotan di Tengah Tantangan Global

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.
Pada April 2025, ekspor sawit Indonesia mengalami penurunan drastis, sementara harga CPO menunjukkan tren kenaikan, mencerminkan dinamika pasar yang kompleks.
(2025/06/26) Indonesia menyaksikan penurunan signifikan dalam ekspor produk kelapa sawit pada bulan April 2025, di tengah lonjakan stok domestik yang mencapai lebih dari 3 juta ton. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan bahwa volume ekspor produk sawit mencapai hanya 1,779 juta ton, turun 39,2% dibanding bulan sebelumnya yang mencatatkan angka 2,876 juta ton.
Menurut Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya permintaan global dan konsumsi domestik. Ekspor produk minyak sawit olahan, seperti crude palm oil (CPO), mengalami penurunan paling tajam, yakni 41,7%, menjadi 1,241 juta ton.
Di tengah tantangan ini, produksi CPO pada bulan April mengalami peningkatan menjadi 4,479 juta ton, naik 2% dibanding bulan sebelumnya. Namun, lonjakan produksi ini tidak sejalan dengan serapan pasar yang menurun, menyebabkan penumpukan stok di dalam negeri. Hal ini dapat menjadi sinyal bagi pelaku industri untuk menyesuaikan produksi guna menghindari dampak lebih lanjut terhadap harga dan pasar.
- Ekspor CPO dan Batu Bara Indonesia Mengalami Penurunan di Tengah Kenaikan Kinerja Ekspor Nasional (23 Februari 2026)
- Ekspor CPO Indonesia Naik 59,63% di Awal 2026, Didorong Permintaan Global (4 April 2026)
- Surplus Neraca Perdagangan Riau Januari 2026 Didorong Sektor Nonmigas (3 Maret 2026)
- Kinerja Ekspor Indonesia Meningkat di Tengah Kasus Korupsi CPO (2 Maret 2026)
Sementara itu, harga CPO di dalam negeri menunjukkan tren positif. Pada 26 Juni 2025, harga minyak sawit mentah (CPO) di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat naik tipis menjadi Rp13.550/kg, meningkat sebesar 0,37% dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan ini juga terlihat di Bursa Malaysia, di mana harga CPO mengalami penguatan, didorong oleh harapan penurunan produksi serta permintaan yang tetap tinggi dari negara-negara tujuan utama ekspor.
Faktor lain yang turut mempengaruhi kenaikan harga CPO adalah penguatan harga minyak kedelai di pasar global. Brasil baru-baru ini mengumumkan peningkatan campuran biodiesel dalam solar menjadi 15% dari 14%, yang berpotensi meningkatkan permintaan untuk biofuel berbasis kelapa sawit. Hal ini menciptakan optimisme di kalangan pelaku pasar, meskipun tantangan tetap ada di sisi ekspor.
Dengan kedua negara produsen utama kelapa sawit, Indonesia dan Malaysia, yang akan menghadapi hari libur nasional, permintaan minyak sawit diharapkan tetap tinggi. Pergerakan harga CPO yang naik pada waktu-waktu ini bisa menjadi kesempatan bagi para petani dan produsen untuk meningkatkan pendapatan mereka, meskipun tantangan di pasar ekspor masih harus diperhatikan secara serius.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat penurunan dalam ekspor, dinamika harga CPO yang menunjukkan tren penguatan menjadi harapan di tengah tantangan global yang dihadapi industri kelapa sawit. Para pelaku pasar perlu tetap waspada dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi, guna memastikan keberlanjutan sektor ini di masa depan.
Sumber:
- BRIN: Ekspor Sawit April Turun 39 Persen, GAPKI Catat Lonjakan Stok hingga 3 Juta Ton โ Hai Sawit (2025-06-26)
- Ekspor Produk Sawit Turun Tajam di April 2025, Tapi Nilai Kumulatif Masih Tumbuh Positif โ Info Sawit (2025-06-26)
- Harga CPO KPBN Inacom Naik Tipis Pada Kamis (26 per 6), Harga CPO di Bursa Malaysia Serupa โ Info Sawit (2025-06-26)
- RI dan Malaysia Libur, Naik Berturut-turut Harga CPO Hasil Tender PT KPBN Periode 25 dan 26 Juni 2025 โ Media Perkebunan (2025-06-26)
- Harga CPO Merangkak Naik Pasca Kenaikan Harga Minyak Kedelai โ Kontan (2025-06-26)