BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Penurunan Harga CPO di Tengah Lonjakan Permintaan Global

23 Februari 2026|Penurunan Harga CPO
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Penurunan Harga CPO di Tengah Lonjakan Permintaan Global

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.

Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami penurunan di tengah permintaan yang melemah dari negara importir utama, seperti India dan Tiongkok.

Harga minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan, mencerminkan dinamika pasar global yang berfluktuasi. Pada akhir April 2025, harga CPO di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom tercatat sebesar Rp13.900/kg, mengalami penurunan sebesar 0,71% dari Rp14.000/kg pada hari sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tren berlanjut di Bursa Malaysia, di mana harga minyak sawit juga tertekan oleh melemahnya harga komoditas minyak nabati lainnya.

Selain itu, Kementerian Perdagangan Indonesia menetapkan Harga Referensi CPO untuk periode Mei 2025 sebesar USD 924,46 per metrik ton (MT), yang turun 3,86% atau USD 37,07 dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya permintaan dari negara importir utama seperti India dan Tiongkok, serta penurunan harga minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai. Hal ini menjadi perhatian bagi pelaku industri, mengingat CPO merupakan salah satu komoditas utama ekspor Indonesia.

Isy Karim, Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, menjelaskan bahwa penurunan ini juga terkait dengan ketidakpastian pasar global dan faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi permintaan. "Kondisi ini mengharuskan kita untuk lebih cermat dalam mengelola ekspor dan strategi pasar kita," ujarnya.

Sementara itu, di sektor lain, petani kelapa melaporkan lonjakan harga kelapa yang menguntungkan mereka. Harga kelapa kini berkisar antara Rp 6.400 hingga Rp 6.800/kg, setelah bertahun-tahun harga berada di titik terendah. Ketua Perpekindo, Muhaemin Tallo, menyatakan bahwa peningkatan ini membawa harapan baru bagi petani kelapa yang selama ini tertekan oleh harga rendah dan persaingan dengan minyak sawit.

Dalam konteks ini, petani kelapa meminta agar ekspor kelapa tidak dihentikan ketika harga sedang tinggi, karena hal ini dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi mereka. Lonjakan harga kelapa ini diharapkan juga dapat menurunkan alih fungsi lahan dari perkebunan kelapa ke komoditas lain yang lebih menguntungkan. Petani berharap pemerintah akan mendukung langkah ini dengan kebijakan yang mendukung keberlangsungan industri kelapa.

Melihat tren ini, meski harga CPO mengalami penurunan, sektor kelapa menunjukkan sinyal positif. Hal ini menunjukkan dinamika yang kompleks dalam pasar komoditas Indonesia, di mana perubahan harga dan permintaan dapat memengaruhi berbagai sektor agribisnis secara langsung.

Sumber:

  • Harga CPO KPBN Inacom Terkoreksi Pada Rabu (30 per 4), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Menurun โ€” Info Sawit (2025-04-30)
  • Harga Komoditas: Minyak Mentah Anjlok 2,6%, Batu Bara-CPO Naik โ€” Kumparan (2025-04-30)
  • Harga Referensi CPO Mei 2025 Turun Sebesar 3,86% Dibanding Bulan Sebelumnya โ€” Kontan (2025-04-30)
  • Harga Referensi CPO Turun Sedangkan HPE Biji Kakao Naik โ€” Hortus (2025-04-30)
  • Kemendag Tetapkan Harga Referensi CPO untuk Mei 2025, Turun 3,86 persen โ€” Kumparan (2025-04-30)
  • Petani Minta Ekspor Kelapa Tak Disetop saat Harga Tinggi, Ini Alasannya โ€” Detik (2025-04-30)
  • Pungutan Ekspor CPO Turun Dampak Permintaan India dan China Melemah โ€” Liputan6 (2025-04-30)