Situs ini hasil automasi. Seluruh artikel disusun otomatis dan bisa memuat kekeliruan. Tetap rujuk sumber asli yang tercantum di setiap artikel.

BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Produk Konsumer

Upaya Hilirisasi Sawit, Kakao, dan Kelapa Terhambat Pasokan dan Produktivitas Hulu

3 Oktober 2026|Hilirisasi sawit dan kakao
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Upaya Hilirisasi Sawit, Kakao, dan Kelapa Terhambat Pasokan dan Produktivitas Hulu

Logo BPDP yang terintegrasi dengan latar belakang kebun kelapa sawit, mencerminkan dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia.

Hilirisasi sawit, kakao, dan kelapa masih terkendala pasokan bahan baku dan produktivitas tanaman tua, sehingga perlu perbaikan hulu, riset, dan pasar agar nilai tambah meningkat.

(2026/10/03) Pengembangan industri hilir kelapa sawit, kakao, dan kelapa di Indonesia masih terhambat oleh ketersediaan dan kualitas bahan baku sehingga upaya penambahan kapasitas pengolahan belum menjamin peningkatan nilai tambah.

Data yang dipaparkan dalam webinar Sosialisasi Call for Proposal Program Pangan dan Hilirisasi BPDP Tahun 2026 menunjukkan tantangan struktural di hulu: sekitar 67 persen tanaman kakao dikatakan berada dalam kondisi tua atau tidak produktif, sementara 99,09 persen perkebunan kelapa dikelola oleh rakyat sehingga kontinuitas pasokan menjadi rentan bagi industri pengolahan.

Merrijantij Punguan Pintaria, perwakilan Kementerian Perindustrian dalam Komite Pangan dan Hilirisasi BPDP, menyatakan bahwa hilirisasi harus ditempatkan sebagai bagian dari transformasi struktur ekonomi, bukan sekadar pengolahan bahan mentah. Menurut Merrijantij, penguatan sektor hulu berupa peningkatan produktivitas, perbaikan mutu dan kontinuitas pasokan, serta diversifikasi produk mutlak diperlukan agar kapasitas pengolahan berdampak pada peningkatan nilai ekonomi.

Kondisi pasar dan bentuk pemasaran produk juga menjadi hambatan konkret. Pada komoditas kelapa, masih terdapat pemasaran dalam bentuk kelapa bulat, kopra, dan minyak kelapa mentah; sementara pada sawit ada peluang memperluas diversifikasi produk hilir yang saat ini tercatat 208 produk pada 2025 dan ditargetkan meningkat menjadi 250 produk pada 2029. Target ini menjadi tolok ukur ekspansi hilirisasi tetapi menuntut pasokan bahan baku yang stabil dan mutu yang bisa diandalkan.

Isu riset dan inovasi muncul sebagai komponen penting untuk mengangkat nilai tambah dari tiap hektar. Dwi Asmono, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI sekaligus anggota Komite Pangan dan Hilirisasi BPDP, menekankan bahwa keberhasilan inovasi diukur bukan hanya kemampuan menghasilkan produk atau teknologi baru, tetapi seberapa besar nilai tambah yang dapat diciptakan per hektar. Pernyataan itu menggarisbawahi perlunya fokus riset yang terukur hasil ekonominya bagi petani dan industri pengolahan.

Praktisnya, perbaikan hulu yang dimaksud meliputi rehabilitasi tanaman tua, peningkatan produktivitas melalui praktik agronomi dan peremajaan, serta penguatan rantai pasok untuk menjamin kontinuitas bahan baku. Untuk komoditas kakao, besaran tanaman yang tidak produktif (67 persen) menuntut program intensif rehabilitasi dan pendampingan teknis, sementara status kepemilikan lahan kelapa yang mayoritas di tangan rakyat (99,09 persen) membutuhkan mekanisme agregasi pasokan atau kemitraan yang lebih kuat antara petani dan pelaku industri.

Selain aspek teknis, Merrijantij menyebut aspek pasar, investasi, dan pendalaman industri sebagai bagian penting dalam mendorong daya saing komoditas perkebunan. Rencana peningkatan jumlah produk hilir sawit menjadi 250 produk pada 2029 menjadi salah satu tolok ukur yang memerlukan sinergi kebijakan, dukungan riset terapan, serta jaminan pasokan bahan baku dari hulu agar target itu dapat terealisasi.

Sumber:

Sumber asli

Artikel ini disusun otomatis. Periksa faktanya di berita asli berikut.

  1. Hilirisasi Sawit, Kakao, dan Kelapa Masih Terganjal Pasokan Bahan Baku · tribunnews.com