BMKG: Oktober–Desember 2026 Didominasi Curah Hujan Rendah–Menengah, Sentra Sawit Perlu Antisipasi

Kebun sawit Indonesia mengalami kekeringan akibat kemarau, menyebabkan kekurangan air bagi tanaman sawit sesuai data BMKG.
BMKG memperkirakan Oktober didominasi hujan rendah; November meningkat ke menengah; Desember lebih basah — sejumlah sentra sawit perlu atur irigasi, drainase, dan akses jalan.
(2026/09/28) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan Indonesia pada Oktober–Desember 2026 didominasi kategori rendah hingga menengah, dengan Oktober terutama menunjukkan kondisi bawah normal yang berpotensi memengaruhi ketersediaan air di perkebunan sawit.
Dalam Buletin Informasi Iklim Perkebunan Sawit periode September 2026, BMKG menguraikan peta prakiraan bulanan yang menunjukkan 49,92 persen wilayah nasional diperkirakan menerima curah hujan rendah (1–100 mm) pada Oktober, 45,08 persen pada kategori menengah (101–300 mm), dan 5,01 persen pada kategori tinggi lebih dari 300 mm.
BMKG juga menyampaikan bahwa sifat hujan pada Oktober cenderung berada pada kategori Bawah Normal, dengan 83,92 persen wilayah diprediksi menerima curah hujan lebih rendah dari kondisi normal, 13,49 persen pada kondisi Normal, dan 2,59 persen pada Atas Normal. Pernyataan itu menempatkan bulan awal periode akhir tahun sebagai fase yang memerlukan perhatian pengelola kebun terkait pasokan air tanah dan kesehatan tanaman.
- Pelatihan ISPO di Jambi: Upaya Meningkatkan Produktivitas dan Tata Kelola Sawit Rakyat (15 September 2026)
- Harga TBS Kalbar Periode I Oktober 2026 Turun dari Periode IV September, Daftar Lengkap (9 Oktober 2026)
- Kemarau Panjang Picu Musim Trek dan Gejala Water Stress pada Sawit di Indonesia (29 September 2026)
- Harga TBS Sumut Bergerak Variatif; TBS Mitra Plasma Catat Kenaikan hingga Rp157/kg (26 Agustus 2026)
Pergeseran mulai terlihat pada November, ketika porsi wilayah bercurah hujan rendah turun menjadi 16,97 persen dan porsi menengah meningkat menjadi 70,05 persen, sementara 12,98 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Meski demikian BMKG masih memperkirakan 64,50 persen wilayah berada pada sifat hujan Bawah Normal pada November, dengan 33,17 persen pada kondisi Normal dan 2,33 persen pada Atas Normal.
Perubahan paling jelas tercatat pada Desember yang diprediksi lebih basah dibandingkan dua bulan sebelumnya, sehingga Desember menjadi periode dengan kecenderungan peningkatan curah hujan bagi banyak wilayah. Peralihan ini membuka kebutuhan pengelola kebun untuk menyesuaikan jadwal pemeliharaan, panen, dan pengerjaan jalan produksi yang rentan terendam atau rusak ketika curah hujan meningkat.
BMKG memetakan perbedaan kondisi hujan antarsentra sawit di Sumatra dan Kalimantan. Aceh diprediksi mengalami curah hujan menengah hingga sangat tinggi sepanjang Oktober–Desember, sementara Riau menunjukkan rentang curah hujan dari rendah hingga sangat tinggi tergantung lokasi. Jambi diperkirakan cenderung berada pada kategori rendah hingga menengah, sedangkan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur menunjukkan variasi dari rendah hingga tinggi pada periode yang sama.
Analisis BMKG menggarisbawahi implikasi operasional: pada wilayah yang diperkirakan kering pada Oktober, pemantauan ketersediaan air dan potensi kekurangan untuk pertumbuhan vegetatif dan pembentukan tandan harus diperketat; di wilayah yang diperkirakan basah menuju akhir tahun, perhatian diarahkan pada drainase, kondisi jalan, dan pengangkutan tandan buah segar agar kegiatan panen tidak terganggu. BMKG mengingatkan bahwa informasi iklim bulanan perlu terus diperbarui karena prediksi dapat berubah seiring perkembangan kondisi atmosfer dan laut.
Sumber: