Kemarau Panjang Picu Musim Trek dan Gejala Water Stress pada Sawit di Indonesia

Kebun sawit Indonesia mengalami kekeringan akibat kemarau, menyebabkan kekurangan air bagi tanaman sawit sesuai data BMKG.
Kemarau panjang memicu musim trek di Kaur dan pengamatan fisiologis seperti akumulasi daun tombak menunjukkan respons water stress yang berpotensi menurunkan produksi TBS.
(2026/09/29) Kemarau panjang di sejumlah wilayah sawit mulai menekan produksi tandan buah segar (TBS), terutama di Kabupaten Kaur, Bengkulu, sementara praktisi agronomi mengingatkan gejala fisiologis di daun dapat menjadi indikator awal water stress yang berpengaruh pada pembentukan bunga dan buah.
Di Kaur, petani di Kecamatan Kelam Tengah melaporkan penurunan produksi TBS setelah berbulan-bulan minim hujan, kondisi yang disebut memasuki musim trek. Seorang petani, Eksi, mengatakan tanaman kekurangan air sehingga pupuk yang ditabur tidak terserap dan perkembangan tandan buah menjadi tidak optimal.
Kemarau berkepanjangan menyebabkan cekaman kekeringan yang mengganggu proses fisiologis tanaman, dari pembentukan bunga hingga perkembangan tandan buah. Eksi juga menuturkan bahwa kekurangan air membuat bunga jantan muncul lebih banyak dan calon buah berkembang tidak sempurna, sehingga tandan yang dihasilkan menjadi 'kurus' dan volume panen turun.
- Bank Sumsel Babel Tandatangani PKS Dukung Peremajaan Perkebunan Sawit Tahap VII 2026 (7 September 2026)
- Harga TBS Mitra Plasma dan Mitra Swadaya Papua Turun untuk Periode II September 2026 (30 September 2026)
- Bappenas dan Pemprov Riau: Produktivitas Kunci Transformasi Sawit, Hilirisasi Harus Didukung Ekosistem (8 Agustus 2026)
- Harga TBS Sawit Sumatera Barat Periode 22–30 September 2026: Tinggi untuk umur 10–20 tahun, namun lebih rendah dari periode sebelumnya (24 September 2026)
Praktisi P3PI Marlon Sitanggang menjelaskan dimensi atmosferik dari kekeringan lewat konsep Vapor Pressure Deficit (VPD), yakni besarnya dorongan udara kering untuk menarik uap air dari daun. Menurut Marlon, VPD tinggi belum tentu bermasalah jika akar masih bisa memasok air, namun menjadi kritis bila ketersediaan air tanah rendah karena kehilangan air lewat transpirasi tidak dapat diimbangi serapan akar.
Marlon mengamati gejala spesifik di lapangan: akumulasi daun tombak yang tidak segera membuka. Ia menyebut adanya pokok dengan empat daun tombak yang belum membuka sebagai sinyal bahwa tekanan turgor terganggu akibat defisit air. Pengamatan ini menempatkan daun tombak sebagai potensi indikator lapangan untuk memantau perkembangan water stress, terutama sepanjang periode El Niño.
Di tingkat operasional, petani di Kaur memilih menunda pemupukan karena pupuk sulit diserap tanpa siraman air hujan, sementara saran praktis yang beredar mencakup menjaga kelembapan tanah dengan bahan organik dan memanfaatkan sumber air setempat untuk irigasi. Eksi menyatakan beberapa petani mencoba mempertahankan kelembapan di sekitar pangkal tanaman agar kondisi kebun tidak semakin menurun.
Penggabungan laporan lapangan dan penjelasan fisiologis menunjukkan dua lapis dampak kekeringan: penurunan langsung pada output TBS yang sudah terjadi di Kaur, dan potensi gangguan jangka menengah pada pembentukan bunga serta distribusi produksi jika defisit air dan VPD tinggi berlanjut. Rencana mitigasi yang disebutkan oleh sumber meliputi penyaluran air dari sumber lokal dan penyesuaian jadwal pemupukan sampai kelembapan tanah membaik.
Sumber: