Fluktuasi Harga CPO: Penurunan Drastis dan Dampak Kebijakan Global

Harga TBS kelapa sawit di Indonesia mengalami penurunan, terlihat dari buah sawit yang menumpuk rendah kualitas.
Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami penurunan signifikan akibat berbagai faktor, termasuk kebijakan dari negara importir utama seperti India dan dinamika pasar global.
Harga minyak sawit mentah (CPO) Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan petani dan pelaku industri. Penetapan harga kelapa sawit untuk mitra plasma di Riau tercatat turun menjadi Rp 3.405 per kilogram, seiring dengan penyesuaian pasar yang mencerminkan tren global dan lokal.
Menurut Kepala Dinas Perkebunan Riau, Syahrial Abdi, harga Tandan Buah Segar (TBS) untuk periode 5 hingga 11 Februari 2025 mengalami penurunan sebesar 1,72 persen dari harga sebelumnya. Penetapan harga ini dilakukan berdasarkan hasil kajian dari PPKS Medan, yang menunjukkan bahwa kelompok umur tanaman yang lebih tua mengalami penurunan harga yang lebih signifikan.
Di sisi lain, harga CPO di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami penurunan, ditetapkan pada Rp 14.008 per kilogram. Penurunan ini mencerminkan tren harga yang sama di Bursa Malaysia, di mana harga kontrak minyak sawit berjangka mengalami penurunan setelah beberapa sesi kenaikan. Hal ini menunjukkan ketidakstabilan pasar yang sering kali sulit diprediksi.
- Harga CPO Diprediksi Naik hingga RM4.600 per Ton di 2026 (5 April 2026)
- Harga CPO Tembus Level Tertinggi 15 Bulan, TBS Riau Dekati Rp4.000 (31 Maret 2026)
- Ekspor CPO Meningkat 26,4% ke US$4,69 Miliar di Awal 2026 (2 April 2026)
- Harga CPO Diprediksi Stabil Tinggi, Ekspor Sawit Terus Tumbuh di 2026 (5 April 2026)
Fluktuasi harga ini tidak terlepas dari pengaruh kebijakan luar negeri, khususnya dari India, yang merupakan salah satu importir utama CPO Indonesia. Penurunan permintaan dari negara tersebut turut memengaruhi harga referensi CPO di Indonesia. Isy Karim, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, menjelaskan bahwa kebijakan India yang mengurangi impor CPO dari Indonesia berkontribusi pada penurunan harga untuk bulan Februari 2025.
Selain itu, harga komoditas lain seperti batu bara dan nikel juga mengalami penurunan, menunjukkan bahwa pasar komoditas global sedang mengalami ketidakpastian. Dalam laporan terbaru, harga batu bara anjlok hingga 2,41 persen, sementara harga minyak mentah juga menunjukkan tren yang sama, meskipun harga CPO sempat meroket sebelumnya.
Perdagangan CPO di tingkat global memang dikenal sangat dinamis, dengan harga yang dapat berfluktuasi secara drastis dalam waktu singkat. Sebelumnya, harga CPO sempat mencapai Rp 14.100 per kilogram pada tender yang dilakukan oleh KPBN, namun kembali turun setelah adanya penyesuaian berdasarkan kondisi pasar yang lebih luas.
Dengan kondisi yang terus berubah ini, pelaku industri kelapa sawit diharapkan dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan harga dan permintaan. Strategi yang tepat dalam menghadapi situasi pasar yang fluktuatif ini menjadi kunci bagi keberlanjutan dan profitabilitas sektor ini di masa depan.
Sumber:
- Harga CPO Turun, Kelapa Sawit Mitra Plasma Jadi Rp3.405 per Kg Pekan Ini โ Media Center Riau (2025-02-04)
- Harga CPO KPBN Inacom Turun 0,65 Persen Pada Selasa (4 per 2), Harga CPO di Bursa Malaysia Merosot โ Info Sawit (2025-02-04)
- Usai Meroket, Tiba-tiba Anjlok Harga CPO Hasil Tender PT KPBN Periode 4 Februari 2025 โ Media Perkebunan (2025-02-04)
- India Bikin Harga Referensi CPO Februari 2025 Jadi Begini โ Media Perkebunan (2025-02-04)