Harga TBS Sawit di Gorontalo Naik, Sementara Sumut Alami Penurunan

Petani perempuan dan laki-laki bekerja sama di kebun sawit, mencerminkan kemajuan kesetaraan gender dalam industri kelapa sawit Indonesia.
Harga TBS sawit di Gorontalo meningkat menjadi Rp3.015 per kg, sementara Sumut mengalami penurunan harga menjadi Rp3.834,74 per kg pada periode yang sama.
(2026/03/26) Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp3.015 per kg untuk periode 1-31 Maret 2026. Namun, di sisi lain, harga TBS sawit di Sumatera Utara mengalami penurunan sebesar Rp77,67 per kg menjadi Rp3.834,74 per kg periode 25-31 Maret 2026.
Kenaikan harga TBS di Gorontalo disepakati dalam rapat Tim Penetapan Harga TBS yang dipimpin oleh Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Gorontalo, Ramdhan Pade. Kenaikan ini didukung oleh tren positif harga CPO yang tercatat sebesar Rp14.131 per kg dan harga kernel sawit yang mencapai Rp11.774 per kg. Luas perkebunan sawit di Gorontalo sendiri mencapai 59.760 hektar, yang menunjukkan potensi besar bagi industri sawit di daerah tersebut.
Di Sumatera Utara, penurunan harga TBS sawit terpantau untuk berbagai kategori umur tanaman. Misalnya, sawit umur 3 tahun dipatok pada harga Rp3.243,23 per kg, sedangkan sawit umur 10-20 tahun dijual seharga Rp3.834,74 per kg. Penetapan harga ini diambil berdasarkan hasil evaluasi oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan setempat, menunjukkan variasi harga yang cukup besar tergantung umur tanaman.
- BPDPKS Buka Beasiswa untuk Peningkatan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (21 Maret 2026)
- Lampung Siap Eksekusi Replanting Sawit Seluas 800 Hektare di 2026 (4 April 2026)
- Laba PTPN IV PalmCo Tumbuh 65% Berkat Modernisasi dan Digitalisasi (29 Maret 2026)
- Peremajaan Sawit Rakyat dan Pengamanan Aset PTPN di Kalimantan Selatan (29 Maret 2026)
Pentingnya harga TBS ini bagi petani sawit sangat signifikan, terutama dalam mendukung pendapatan mereka. Meskipun Gorontalo menunjukkan tren positif, penurunan harga di Sumut dapat mempengaruhi keputusan para petani dalam manajemen produksi dan penanaman di masa depan. Perubahan harga ini juga mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, serta kondisi global dari harga minyak sawit mentah.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa fluktuasi harga TBS akan terus terjadi, tergantung pada kondisi pasar domestik dan internasional. Dengan harga CPO yang tetap tinggi, ada harapan bagi petani sawit di Gorontalo untuk mendapatkan keuntungan lebih. Namun, petani di Sumut perlu mencari cara untuk beradaptasi dengan penurunan harga ini agar tetap dapat berproduksi secara efisien.
Ini menjadi tantangan bagi industri sawit di Indonesia untuk mengelola fluktuasi harga dengan baik. Penelitian dan inovasi dalam praktik perkebunan dapat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Seperti yang diungkapkan Ramdhan Pade, "Kenaikan harga TBS di Gorontalo adalah sinyal positif, tetapi kita harus tetap waspada terhadap dinamika harga di daerah lain seperti Sumut yang mengalami penurunan."
Sumber: