Harga TBS Sawit Sumut Terkoreksi, CPO Turun di Bursa Malaysia

Harga TBS kelapa sawit di Indonesia mengalami penurunan, terlihat dari buah sawit yang menumpuk rendah kualitas.
Harga TBS sawit di Sumut mengalami penurunan menjadi Rp3.949,23 per kg, sementara harga CPO juga mengalami penyesuaian di pasar global.
(2026/04/16) Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Sumatra Utara mengalami penurunan menjadi Rp3.949,23 per kilogram untuk periode 15-21 April 2026. Penurunan ini terjadi setelah harga TBS mencapai rekor tertinggi Rp4.110,77 per kilogram pada pekan sebelumnya, dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) yang juga mengalami penurunan.
Menurut analisis dari Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Sumut, penurunan harga CPO dari Rp16.049,08 per liter menjadi Rp15.237,00 per liter turut berkontribusi pada koreksi harga TBS. Ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang mempengaruhi pasar minyak global menjadi salah satu faktor yang menyebabkan fluktuasi ini.
Stabilitas harga sawit dianggap penting tidak hanya untuk petani tetapi juga untuk pertumbuhan ekonomi daerah. Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, menekankan bahwa sektor industri dan perkebunan harus terjaga dari gangguan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Penurunan harga sawit yang berkelanjutan dapat mempengaruhi produktivitas dan konflik lahan, yang pada akhirnya akan berdampak signifikan terhadap perekonomian lokal.
Di sisi lain, harga CPO di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami penurunan. Pada 16 April 2026, harga CPO penawaran tertinggi tercatat sebesar Rp15.167 per kilogram, turun Rp55 atau 0,36% dari harga sebelumnya yang mencapai Rp15.222 per kilogram. Harga CPO FOB Talang Duku ditetapkan pada Rp15.080 per kilogram.
Perdagangan CPO di Bursa Malaysia juga menunjukkan kecenderungan stagnan, di tengah lemahnya permintaan dari importir utama. Ekspektasi peningkatan produksi dan penurunan permintaan membuat pasar CPO di Malaysia tidak beranjak jauh dari level saat ini.
Dengan berlanjutnya penurunan harga TBS dan CPO, penting bagi pemangku kepentingan dalam industri sawit untuk memperhatikan dinamika pasar dan faktor-faktor yang mempengaruhi harga. Ketidakpastian di pasar global, termasuk potensi konflik dan kebijakan perdagangan, akan terus menjadi tantangan bagi keberlanjutan industri sawit di Indonesia. Seperti yang dinyatakan oleh Dr. Afni, "Kekuatan ekonomi daerah sangat bergantung pada stabilitas harga sawit dan produktivitasnya," yang dapat menjadi pertimbangan serius bagi para pelaku industri ke depan.
Sumber: