BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Perpajakan & Pungutan

Kenaikan Pungutan Ekspor dan Strategi Produsen Sawit Menghadapi Tantangan Pasar

23 Februari 2026|Kenaikan Pungutan Ekspor CPO
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Kenaikan Pungutan Ekspor dan Strategi Produsen Sawit Menghadapi Tantangan Pasar

Amran menyampaikan pidato di Istana Negara mengenai kebijakan baru untuk mendukung industri kelapa sawit Indonesia.

Kenaikan pungutan ekspor CPO menjadi 10% menambah tantangan bagi petani kelapa sawit di Indonesia, sementara produsen besar beradaptasi dengan meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan global.

Kenaikan pungutan ekspor Crude Palm Oil (CPO) dari 7,5% menjadi 10% yang mulai berlaku pada 17 Mei 2025 menjadi sorotan utama dalam industri kelapa sawit Indonesia. Kebijakan ini dinilai akan berdampak signifikan terhadap margin keuntungan perusahaan dan harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani. Dalam konteks ini, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan bahwa beban ekspor sawit dalam negeri kini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia, mengingat adanya tiga beban sekaligus yang harus ditanggung eksportir, yaitu Domestic Market Obligation (DMO), pungutan ekspor, dan bea keluar.

Kenaikan pungutan ini dikritik oleh Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Sabarudin, yang menegaskan bahwa kebijakan tersebut lebih menguntungkan program biodiesel B40 daripada petani. Ia menegaskan bahwa petani sawit akan merasakan dampak langsung dari kebijakan ini, dengan kemungkinan turunnya harga TBS yang mereka terima.

Sementara itu, di tengah tantangan ini, sejumlah produsen besar alkohol lemak di Asia, termasuk Wilmar dan Kuala Lumpur Kepong (KLK), tengah berlomba untuk memperluas kapasitas produksi mereka. Wilmar, berlokasi di Gresik, Indonesia, sedang membangun pabrik baru dengan kapasitas 110 ribu ton per tahun, yang diharapkan rampung pada kuartal pertama 2025. Ekspansi ini bertujuan untuk memenuhi lonjakan permintaan global, terutama dari sektor kebersihan dan perawatan pribadi, yang terus meningkat.

Dalam kesempatan berbeda, Gubernur Bangka Belitung, Hidayat Arsani, melakukan kunjungan ke PT Steelindo Wahana Perkasa (SWP) di Belitung Timur untuk memastikan distribusi dan harga minyak goreng sawit tetap stabil. Kunjungan ini menunjukkan upaya pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat, terutama di tengah situasi pasar yang bergejolak.

Selain itu, harga minyak mentah global juga mengalami kenaikan, dengan harga minyak mentah Brent mencapai USD 65,41 per barel. Kenaikan ini didorong oleh meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, yang memberikan harapan stabilitas pasar. Namun, pengusaha sawit tetap waspada terhadap fluktuasi harga dan dampaknya terhadap industri mereka.

Di sisi lain, analisis menunjukkan bahwa meskipun kenaikan pungutan ekspor dapat mempengaruhi kinerja keuangan beberapa emiten sawit, ada peluang menarik bagi investor di perusahaan-perusahaan dengan eksposur ekspor rendah seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Kedua perusahaan ini dinilai memiliki efisiensi operasional yang dapat membantu mereka bertahan dalam situasi yang tidak menentu.

Secara keseluruhan, industri kelapa sawit Indonesia kini dihadapkan pada tantangan yang kompleks akibat kebijakan pemerintah dan dinamika pasar global. Produsen perlu beradaptasi dan berinovasi untuk tetap kompetitif, sementara petani harus memperjuangkan keberlanjutan ekonomi mereka di tengah tekanan yang ada.

Sumber:

  • Produsen Asia Berlomba Bangun Pabrik Alkohol Lemak, Siap Serbu Pasar Global โ€” Info Sawit (2025-05-19)
  • Bea Ekspor CPO Naik, Saham-Saham Ini Bisa Jadi Pilihan Aman โ€” Kontan (2025-05-19)
  • Gubernur Babel Tinjau Produksi Minyak Sawit PT SWP, Pastikan Harga dan Distribusi Stabil โ€” Hai Sawit (2025-05-19)
  • Harga Minyak Mentah Melesat ke Level USD 65,41 per Barel โ€” Kumparan (2025-05-19)
  • Pungutan Ekspor Naik Mempengaruhi Harga TBS โ€” Sawit Indonesia (2025-05-19)
  • Video Beban Ekspor CPO Lebih Tinggi Dari Malaysia, Pengusaha Menjerit โ€” CNBC (2025-05-19)