BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Budidaya & Agronomi

Pelatihan SDM Pekebun Sawit di Sumsel: Upaya Tutup Gap Produktivitas dan Percepatan ISPO

23 Juni 2026|Tingkatkan Produktivitas Daya Saing,
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Pelatihan SDM Pekebun Sawit di Sumsel: Upaya Tutup Gap Produktivitas dan Percepatan ISPO

Logo BPDP yang terintegrasi dengan latar belakang kebun kelapa sawit, mencerminkan dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia.

Program pelatihan BPDP–Ditjenbun–PT SIB di Sumsel melibatkan 165 pekebun, menargetkan peningkatan produktivitas dari 3,3–3,5 t/ha menjadi 5–6 t/ha serta percepatan ISPO lewat kunjungan lapang.

(2026/06/23) Pemerintah bersama BPDP dan PT Sumber Daya Indonesia Berjaya (PT SIB) menggelar rangkaian pelatihan budidaya sawit di Palembang yang diikuti total 165 pekebun dari Banyuasin dan Musi Banyuasin, dengan tujuan menutup kesenjangan produktivitas kebun rakyat.

Pelatihan merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan PT SIB. Kegiatan dibuka pada 22 Juni 2026 dan dibagi dalam beberapa angkatan untuk peserta dari dua kabupaten tersebut.

Target utama program ini merujuk pada data produktivitas yang dikemukakan narasumber: rata-rata produktivitas kebun sawit rakyat saat ini berada pada kisaran 3,3 hingga 3,5 ton minyak sawit per hektare per tahun, padahal potensi produksi dapat mencapai 5 hingga 6 ton per hektare. Angka-angka itu menjadi dasar dorongan peningkatan kapasitas pekebun melalui pelatihan teknis dan manajerial.

Latar belakang dan ruang perbaikan produktivitas

Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Kelapa Sawit Direktorat Jenderal Perkebunan, Mula Putra, mengatakan ada gap produktivitas antara kondisi aktual dan potensi yang cukup besar, karena faktor seperti penggunaan benih yang belum unggul, pemupukan tidak sesuai rekomendasi, dan pengelolaan pemeliharaan tanaman yang belum optimal. Mula menegaskan bahwa peningkatan SDM menjadi salah satu fokus pemerintah untuk menutup gap tersebut.

Sumber lain dari penyelenggara mencatat bahwa program tidak hanya menyasar aspek teknis budidaya tetapi juga pengelolaan usaha yang efisien dan pemahaman prinsip-prinsip keberlanjutan. Dalam praktiknya, modul pelatihan mencakup pembelajaran kelas, diskusi kelompok, praktik lapangan, dan kunjungan lapang sesuai pedoman teknis pemerintah.

Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dian Eka Putra, menekankan bahwa peningkatan kualitas SDM pekebun adalah investasi jangka panjang, dan menyebut Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir sebagai penopang utama produksi sawit di provinsi tersebut. Dian juga mencatat tingginya partisipasi generasi muda sebagai indikator positif bagi regenerasi petani.

Implementasi pelatihan dan upaya percepatan sertifikasi ISPO

Pelatihan angkatan I–V mencatat total 165 peserta — 76 dari Musi Banyuasin dan 89 dari Banyuasin — yang direkomendasikan teknis oleh Ditjenbun dan BPDP, menurut laporan penyelenggara. PT SIB menempatkan tenaga ahli dan praktisi, termasuk Prof. Dr. Ir. Hariyadi sebagai narasumber utama dan Direktur Teknis PT SIB Ir. Heri Murdiono, untuk memimpin sesi praktik dan kunjungan lapang.

Salah satu agenda penting yang disorot penyelenggara adalah kunjungan ke Koperasi Rukun Amanah Sejahtera di Kabupaten Banyuasin, yang telah memperoleh sertifikasi ISPO. Koperasi itu dipakai sebagai contoh praktik Good Agricultural Practices (GAP) dan tata kelola kelembagaan pekebun yang dinilai baik untuk memperlihatkan persyaratan sertifikasi kepada peserta.

Dampak ke pekebun dan fokus pada perubahan perilaku usaha

Direktur Utama PT Sumber Daya Indonesia Berjaya, Andi Yusuf Akbar, mengatakan pelatihan dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta secara menyeluruh — mulai dari pengetahuan, sikap, hingga keterampilan teknis — serta mendorong pola pikir dan perilaku usaha yang lebih profesional. Andi menyebutkan pula bahwa PT SIB telah dipercaya selama enam tahun untuk melaksanakan program serupa di berbagai daerah.

Penyelenggara menekankan bahwa peningkatan produktivitas melalui perbaikan praktik budidaya lebih strategis daripada ekspansi lahan. Mula Putra menyatakan bahwa dengan lahan yang sama, hasil produksi bisa meningkat jika teknik budidaya diterapkan lebih baik, sehingga pendapatan pekebun dapat naik tanpa membuka kawasan baru yang berisiko bagi lingkungan.

Dalam laporan kegiatan dicatat pula bahwa 30 pekebun dari Kabupaten Banyuasin mengikuti salah satu angkatan pelatihan, sementara angkatan lain melibatkan peserta dari Musi Banyuasin; jumlah peserta per sesi bervariasi antara 30 hingga puluhan peserta, sesuai jadwal angkatan yang diselenggarakan di Palembang.

Untuk mendukung proses pembelajaran, materi dan silabus pelatihan mengacu pada pedoman teknis pemerintah, dan proses pembelajaran mencakup kunjungan lapang, praktik lapangan, serta pembelajaran di kelas untuk memperkuat penerapan standar budidaya. Dian Eka Putra menilai partisipasi generasi muda dalam pelatihan sebagai sinyal positif bagi adopsi teknologi digital dalam pengelolaan kebun.

Rangkaian pelatihan pada 22 Juni 2026 di Palembang menjadi bagian dari upaya kolaboratif antara Ditjenbun, BPDP, dan PT SIB untuk memperkecil gap produktivitas 3,3–3,5 t/ha terhadap potensi 5–6 t/ha serta mendorong percepatan penerapan standar ISPO di tingkat kebun rakyat.

Sumber: