BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Budidaya & Agronomi

Togu Saragih: Kemitraan Jadi Pilar Utama untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani Sawit

2 Juli 2026|Pola Kemitraan Berkebun Kelapa Sawit
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Togu Saragih: Kemitraan Jadi Pilar Utama untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani Sawit

Seorang petani sawit rakyat berjalan di lorong kebun membawa keranjang panen di antara deretan pohon kelapa sawit. Nuansa hijau dan cahaya alami menonjolkan suasana kebun rakyat yang produktif.

Togu Saragih menegaskan pola kemitraan antara perusahaan dan petani sawit sebagai langkah wajib untuk stabilkan harga, transfer teknologi, dan tingkatkan produktivitas.

(2026/07/02) Pola kemitraan antara perusahaan dan petani kelapa sawit dinilai sebagai langkah paling tepat dan bahkan suatu keharusan untuk mewujudkan kesejahteraan petani, menurut Togu Saragih dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan.

Togu menyampaikan pernyataan itu dalam gelaran Dialog Sawit Memperkuat Inti Plasma dan Bedah Buku Setiyono di Pekanbaru, Rabu (1/7). Ia mengatakan pola kemitraan telah digaungkan sejak lama oleh Kementan dengan tujuan mendukung kesejahteraan petani melalui hubungan saling mendukung antara perusahaan dan petani.

Menurutnya, kemitraan memungkinkan stabilitas harga sawit karena adanya pembinaan dan pendampingan teknis dari perusahaan yang membantu menghasilkan produksi berkualitas. Togu menyatakan, "Pada pola ini harga sawit akan lebih stabil lantaran adanya pembinaan dan pendampingan dari perusahaan untuk menghasilkan produksi yang bagus," dalam dialog tersebut.

Dia menambahkan bahwa kecenderungan peningkatan luas kebun sawit rakyat seiring kebijakan moratorium membuat kemitraan menjadi keniscayaan untuk memenuhi tuntutan peningkatan produksi dan produktivitas nasional baik kuantitas maupun kualitas. Togu juga menyebut tuntutan praktik sustainability dan kebutuhan revitalisasi perkebunan rakyat, terutama kebun yang sudah tua, sebagai faktor pendorong penerapan pola kemitraan.

Togu mengurai prinsip-prinsip yang harus mendasari kemitraan: menghargai keragaman untuk mengatasi kekhawatiran perbedaan antar mitra, keterbukaan dan kejujuran mengenai kepentingan masing-masing pihak, membangun keberanian menghadapi ketidakpastian, serta mengusahakan kesetaraan untuk mencegah ketimpangan kekuasaan. Ia menegaskan prinsip terakhir yaitu menciptakan manfaat bersama guna menghindari persaingan di antara mitra.

Dari sudut manfaat operasional, Togu merinci keuntungan konkrit bagi petani yang masuk pola kemitraan, termasuk transfer teknologi melalui bimbingan teknis dan pendampingan yang meningkatkan hasil produksi serta menjamin kesejahteraan petani. Ia juga menekankan bahwa kemitraan mendukung transparansi dan akuntabilitas sehingga akses ke sumber daya dapat lebih besar, serta memudahkan pengelolaan kompetensi, produktivitas, dan kinerja produksi.

Sebagai contoh pola kemitraan yang masih berjalan, Togu menyebut pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) yang dijalankan oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspek-Pir). Menurutnya, pola plasma ini terbukti menciptakan petani yang sejahtera dan bangkit dari keterpurukan; cerita tersebut dituangkan dalam buku Setiyono yang mengisahkan sejarah petani kelapa sawit transmigrasi dan keberhasilan membangun sistem perkebunan dengan pola kemitraan.

Pertemuan dialog dan peluncuran bedah buku tersebut berlangsung pada 1 Juli 2026 di Pekanbaru dan menghadirkan pemaparan Togu Saragih sebagai Perancang Peraturan Ahli Madya Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan. Rangkaian acara memfokuskan pembahasan pada model kemitraan, prinsip tata kelola, dan contoh implementasi pola PIR yang menjadi rujukan praktik kemitraan di lapangan.

Sumber: