Prabowo: Dalam 3-4 Tahun RI Targetkan Produksi Bensin dari Sawit, Tebu, Singkong hingga Sorgum

Prabowo memberikan pidato mengenai pentingnya industri kelapa sawit untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.
(2026/07/13) Presiden Prabowo mengatakan profesor sedang mengembangkan bensin dari kelapa sawit dan etanol dari singkong hingga sorgum, dengan target produksi dalam 3-4 tahun.
(2026/07/13) "Dan profesor-profesor kita sekarang sedang mengembangkan bensin dari kelapa sawit. Etanol dari singkong, dari jagung, dari sorgum," ujar Presiden Prabowo Subianto saat pidato di Puncak Perayaan Hari Koperasi Nasional Ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Pidato itu menandai dorongan pemerintah untuk mengembangkan bahan bakar bensin berbasis tanaman—termasuk kelapa sawit, tebu, singkong, dan sorgum—sebagai bagian dari upaya mengurangi impor BBM. Pernyataan Prabowo menggarisbawahi komitmen pemerintah pada riset dan substitusi bahan bakar fosil melalui sumber biomassa lokal.
Prabowo menegaskan target waktu yang relatif singkat. "Saya harap dalam 3-4 tahun lagi kita nanti juga bisa menghasilkan bensin dari tanaman," ujar Prabowo dalam pidatonya, menempatkan harapan pemerintah pada percepatan penelitian dan komersialisasi teknologi konversi tanaman menjadi bahan bakar.
- Kebijakan Mandatori B50 Dorong Kinerja Positif Industri Sawit Indonesia (27 April 2026)
- Indonesia Siap Terapkan B50 untuk Semua Sektor Mulai Juli 2026 (27 April 2026)
- SPKS Desak Percepatan PSR di Tengah Hilirisasi Biodiesel B50 (25 April 2026)
- Pemerintah Targetkan Mandatori Bensin Campur Etanol Mulai 2027, Siapkan Puluhan Pabrik (20 Juli 2026)
Menurut Prabowo, keberhasilan pengembangan bahan bakar tanaman akan memberi efek ekonomi yang luas bagi petani. "Berarti petani singkong akan hidup makmur! Petani jagung akan hidup makmur! Petani-petani di seluruh Indonesia akan berbuat yang terbaik untuk bangsa dan untuk keluarganya sendiri," katanya, mengaitkan program energi dengan kesejahteraan pertanian.
Dorongan itu juga terkait dengan klaim pemerintah soal perluasan pemanfaatan minyak sawit dalam bahan bakar diesel. "B50 solar! 50% dari kelapa sawit. Petani kelapa sawit ada di Indonesia! Minyak kelapa sawit di Indonesia. Mulai bulan ini, kita tidak impor lagi solar dari luar negeri," ujar Prabowo, menandai langkah kebijakan yang menurutnya sudah diimplementasikan.
Pernyataan tentang pengembangan bensin dari tanaman dan implementasi B50 menempatkan riset akademis dan kebijakan industri kelapa sawit di garis depan strategi energi. Pidato itu tidak merinci skema pendanaan, kapasitas produksi yang ditargetkan, atau langkah regulasi yang akan menyertai komersialisasi bensin tanaman dalam jangka waktu 3-4 tahun.
Klaim soal target waktu dan manfaat ekonomi bagi petani menjadi titik fokus perdebatan kebijakan di masa mendatang, karena realisasi komersial bahan bakar bensin dari tanaman memerlukan uji teknis, infrastruktur pengolahan, serta penyesuaian rantai pasok agroindustri. "Dan profesor-profesor kita sekarang sedang mengembangkan bensin dari kelapa sawit. Etanol dari singkong, dari jagung, dari sorgum," ujarnya kembali sebagai penutup yang menegaskan harapan pemerintah pada riset dalam negeri.
Sumber: