B50 Mulai Berlaku Penuh di Semua SPBU per 1 Oktober 2026, EBTKE Catat Penyaluran Pertamina Ungguli Rata-Rata Nasional

Gambar ini menunjukkan bahan bakar yang mengalir ke dalam tangki, terkait Program Biodiesel B50 dalam bauran energi kelapa sawit di Indonesia.
(2026/10/01) Pemerintah resmi mengakhiri masa transisi dan semua SPBU di Indonesia mulai menjual BBM bercampur B50 pada 1 Oktober 2026.
(2026/10/01) Pemerintah resmi mengakhiri masa transisi dan semua SPBU di Indonesia mulai menjual BBM bercampur B50 pada 1 Oktober 2026.
Program biodiesel 50% (B50) pertama kali diberlakukan sejak 1 Juli 2026, namun penerapan nasional dilakukan bertahap dengan masa transisi tiga bulan yang berakhir pada 1 Oktober 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan transisi diperlukan agar badan usaha dapat menghabiskan stok B40 sebelum beralih sepenuhnya ke B50. "1 Oktober (2026) mulai semua titik sudah full B50. Makanya, kita tertulis di Kepmen kan ada masa transisi itu," ujarnya saat peluncuran Mandatori B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek pada Juli 2026.
- Mandatory B50 dan Dampaknya pada Industri Sawit Indonesia (1 Mei 2026)
- Pemerintah Pastikan Mandatori B50 Tak Mengurangi Volume Ekspor CPO (21 Juli 2026)
- Prabowo Sebut Kelapa Sawit 'Tanaman Ajaib' Sebagai Pilar Kemandirian Energi dan Pangan (20 September 2026)
- B50 Diperluas ke Jambi Akhir Juli, Tantangan Logistik Jadi Fokus Berikutnya (15 Juli 2026)
Eniya menjelaskan ada 34 badan usaha yang melakukan pencampuran biodiesel sehingga kebutuhan penyesuaian stok berbeda-beda antar perusahaan. Ia memaparkan perkiraan waktu pengosongan stok untuk PT Pertamina (Persero) sekitar dua bulan, sedangkan badan usaha penyalur lainnya memerlukan hingga tiga bulan untuk menyelesaikan transisi stok B40 ke B50.
Pemerintah melaporkan pada awal September 2026 bahwa implementasi B50 secara nasional telah mencapai 80% dan ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Eniya juga menyebutkan bahwa per awal September 2026 PT Pertamina (Persero) telah menyalurkan B50 ke 90% jaringan SPBU mereka, sementara perhitungan nasional termasuk perusahaan swasta mencapai angka 80%.
Eniya menegaskan pengawasan terus dilakukan terhadap seluruh badan usaha penyalur selama sisa masa transisi. "B50 masih dalam pengawasan, ini sudah 2 bulan. 2 bulan capaian untuk delivery B50 di Pertamina itu sudah lebih dari 90%," kata Eniya di acara The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di JIExpo beberapa waktu lalu.
Pengakhiran masa transisi ini berarti seluruh kanal distribusi BBM bersolar diharapkan menggunakan campuran 50% minyak sawit sebagai bahan bakar standar sejak hari pertama Oktober 2026. Target nasional yang dicatat Kementerian ESDM adalah pemenuhan ketersediaan B50 di semua titik SPBU per 1 Oktober setelah masa peralihan tiga bulan untuk 34 badan usaha pencampur.
Dalam penjelasan teknis, Eniya menyebut kebutuhan waktu berbeda-beda antar penyalur dan pemerintah memberikan waktu tambahan hingga akhir September agar seluruh penyalur menyelesaikan proses transisi stok. Data penyaluran Pertamina yang mencapai lebih dari 90% pada awal September menjadi kontribusi utama agar rata-rata nasional menyentuh 80% pada periode yang sama.
Kementerian ESDM akan terus mengawasi distribusi B50 di lapangan selama bulan pertama setelah implementasi penuh dan memastikan badan usaha penyalur memenuhi ketentuan pencampuran sesuai Keputusan Menteri yang mengatur masa transisi dan komposisi bahan bakar.
Sumber: