BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Biodiesel & BBN

Harga CPO Diperkirakan Naik 10% di Tengah Ketegangan Geopolitik

19 Maret 2026|Pasar minyak nabati global
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Harga CPO Diperkirakan Naik 10% di Tengah Ketegangan Geopolitik

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.

Harga CPO diperkirakan akan meningkat 10% akibat penutupan Selat Hormuz dan ketidakpastian pasar minyak nabati global saat ini.

(2026/03/19) Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membawa dampak signifikan terhadap pasar minyak nabati global, dengan prediksi harga crude palm oil (CPO) akan meningkat hingga 10%. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk pengiriman minyak, menjadi pemicu utama fluktuasi ini.

Pasar minyak nabati saat ini mengalami ketidakpastian akibat konflik yang sedang berlangsung, yang menyebabkan lonjakan harga energi. Menurut pengamat senior minyak nabati, Dorab Mistry, perilaku pasar dalam situasi konflik sering kali sulit diprediksi dan dapat berubah secara drastis. Hal ini menciptakan tantangan bagi industri sawit Indonesia yang bergantung pada stabilitas harga untuk menjaga profitabilitas.

PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk, salah satu pemain besar dalam industri sawit, menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz akan berdampak pada biaya produksi dan bahan baku yang lebih tinggi. Mereka memperkirakan kenaikan harga CPO dan palm kernel sekitar 10% dibandingkan dengan level sebelumnya. Kenaikan ini diharapkan akan mempengaruhi keseluruhan biaya operasional, termasuk bahan baku dan logistik.

Sementara itu, lonjakan harga minyak mentah yang mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir turut memperkuat daya tarik minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel. Meskipun ada harapan untuk peningkatan permintaan biodiesel, lemahnya pembelian dari negara importir utama tetap membayangi prospek harga. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun harga CPO mungkin meningkat, kondisi pasar tetap berisiko terganggu oleh permintaan yang lesu.

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut, industri sawit Indonesia mungkin akan mengalami volatilitas harga yang lebih besar. Fluktuasi ini bisa berdampak pada keputusan investasi dan strategi pengembangan ke depan bagi perusahaan-perusahaan di sektor ini. Oleh karena itu, pelaku industri perlu memantau situasi geopolitik dengan cermat dan menyesuaikan strategi mereka sesuai dengan kondisi pasar yang terus berubah.

Dalam konteks yang lebih luas, harga CPO yang meningkat dapat mempengaruhi daya saing Indonesia di pasar global, terutama dalam menghadapi negara-negara penghasil minyak sawit lainnya. Keberlanjutan pasokan dan harga yang kompetitif akan menjadi kunci untuk menjaga posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama minyak sawit dunia.

Sumber:

  • Pasar Minyak Nabati Global Bergejolak, Harapan Biodiesel Beradu dengan Permintaan Lesu โ€” Info Sawit (2026-03-18)
  • Wilmar Cahaya Perkirakan Harga CPO Naik 10% Imbas Penutupan Selat Hormuz โ€” Sawit Indonesia (2026-03-18)