Inovasi Pertanian Regeneratif dan Peremajaan Sawit di Kalimantan Selatan
.webp)
Seorang petani melakukan peremajaan sawit rakyat (PSR) dengan menanam kembali pohon kelapa sawit di lahan pertanian.
Penerapan pola pertanian regeneratif dan peremajaan sawit menjadi fokus penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas lahan di Indonesia.
(2026/03/30) Indonesia menyaksikan dorongan kuat untuk menerapkan pola pertanian regeneratif dalam perkebunan sawit, bersamaan dengan upaya pemerintah Kalimantan Selatan yang menargetkan peremajaan sawit seluas 1.600 hektar. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan produktivitas serta kualitas lahan yang semakin menurun.
Pola pertanian regeneratif, yang dinilai cocok untuk sektor sawit, bertujuan untuk memperbaiki kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan menciptakan sistem usaha tani yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Ketua Umum Popsi, Mansuetus Darto, mengungkapkan bahwa sistem ini sudah dikenal oleh para petani, meskipun banyak yang beralih ke metode konvensional yang lebih mengandalkan input kimia.
Saat bersamaan, masalah tanaman sawit yang hanya menghasilkan bunga jantan atau “buah cengkeh” menjadi tantangan serius bagi petani. Fenomena ini dapat menurunkan produktivitas lahan secara drastis. Evaluasi terhadap ketersediaan air dan kondisi kelembapan tanah menjadi langkah awal penting untuk mengatasi masalah ini, karena stres air dapat memicu pohon sawit untuk memproduksi lebih banyak bunga jantan.
- BPDPKS Buka Beasiswa untuk Peningkatan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (21 Maret 2026)
- Kali Biru: Destinasi Wisata Menarik di Kebun Sawit Manokwari (29 Maret 2026)
- PalmCo Memimpin Pendampingan Peremajaan Sawit Rakyat di Indonesia (3 April 2026)
- Kebakaran Lahan dan Kenaikan Harga TBS Warnai Perkebunan Sawit Indonesia (31 Maret 2026)
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Perkebunan (Disbun) menargetkan peremajaan sawit seluas 1.600 hektar pada tahun 2026. Program ini akan dilaksanakan di lima kabupaten sentra kelapa sawit, yaitu Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru. Petani lokal, seperti Jayadi, sangat mendukung program ini karena diyakini akan meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani.
Selain itu, program peremajaan diharapkan dapat meningkatkan kualitas tandan buah segar (TBS) dan memulihkan lahan pertanian yang sudah tidak produktif. Dengan kombinasi antara penerapan pola pertanian regeneratif dan peremajaan sawit, industri kelapa sawit Indonesia diharapkan bisa mencapai produktivitas yang lebih baik dan berkelanjutan.
Inisiatif ini juga membuka peluang bagi petani untuk beradaptasi dengan tantangan iklim dan meningkatkan daya saing produk sawit di pasar global. Sebuah langkah yang tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada keberlanjutan dan kualitas lingkungan hidup di sekitar lahan perkebunan.
Sumber: