Pemerintah Terapkan B50; Harga Menyesuaikan Formula Solar, Industri Reaktivasi Pabrik 600 Ribu Ton

Acara uji pengenalan bahan bakar B50 untuk mesin diesel di Jakarta.
(2026/07/07) Pemerintah akan meluncurkan biodiesel B50 nasional; harga dipatok mengikuti mekanisme harga solar saat ini dan reaktivasi pabrik biodiesel 600.000 ton direncanakan oleh Agrinas Palma.
(2026/07/07) Pemerintah akan menerapkan biodiesel B50 secara nasional dan harga jual per liter akan mengikuti formula penetapan harga solar yang berlaku saat ini, kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman.
Pernyataan Laode memberi konteks kebijakan B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026 dan menandai kelanjutan skema mandatori yang dimulai dari B20, berlanjut ke B30, B40, dan kini B50; pemerintah juga menetapkan masa transisi hingga tiga bulan untuk menghabiskan stok B40.
Laode mengatakan "Kalau harga kan mengikuti harga BBM yang sudah biasanya saja, enggak ada hal khusus," menjelaskan bahwa banderol B50 tidak akan diberi penetapan harga khusus terpisah dari mekanisme solar. Saat ini harga solar subsidi B40 tercatat Rp6.800 per liter, Dexlite Rp19.700 per liter, dan Dex Rp21.150 per liter menurut data yang disampaikan dalam berita.
- Penerapan Mandatori Biodiesel B50 dan Dampaknya Terhadap Produksi Sawit (14 April 2026)
- Pemerintah Jadwalkan Peresmian B50 oleh Presiden Prabowo pada 9 Juli 2026 (3 Juli 2026)
- Biodiesel B100 dan Biomassa Sawit Didorong untuk Energi Alternatif di Asia Tenggara (9 April 2026)
- POPSI dan Koalisi Transisi Bersih: Waspadai Dampak Fiskal dan Tekanan Harga dari Mandat B50 (28 Juni 2026)
Selain penyesuaian harga, pemerintah menyampaikan hasil uji mutu: parameter B50 telah memenuhi spesifikasi, termasuk kadar air maksimum 300 ppm (turun dari 320 ppm pada B40), monogliserida maksimum 0,47 persen massa (dari 0,5 persen massa), dan kestabilan oksidasi minimal 900 menit (naik dari minimal 720 menit pada B40).
Di sisi industri hilir, PT Agrinas Palma Nusantara mengumumkan rencana reaktivasi fasilitas produksi biodiesel di Rengat, Riau, berkapasitas 600.000 ton untuk mendukung pasokan B50; Direktur Utama Abdul Ghani menyatakan fasilitas ditargetkan kembali beroperasi paling lambat akhir tahun depan setelah investasi perbaikan sekitar Rp300 miliar.
Abdul Ghani mengatakan bahwa perusahaan telah menyelesaikan studi kelayakan dan tinggal menyiapkan proses tender untuk perbaikan fasilitas yang sudah lama tidak beroperasi: "Itu sudah FS, tinggal ini mau saya tenderkan sebentar lagi. Itu perbaikan aja sudah rusak. (Kapasitas) 600 ribu ton, biayanya murah enggak sampai Rp 300 miliar," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR.
Rangka kebijakan dan kesiapan industri menambah detail operasional: pemerintah memberi masa jeda tiga bulan untuk adaptasi blending di seluruh SPBU Pertamina sambil menghabiskan stok B40, dan uji kualitas B100 untuk komponen FAME yang dipakai dalam B50 dinyatakan memenuhi rekomendasi Komite Teknis Bioenergi cair.
Secara teknis, B50 adalah campuran 50 persen biodiesel (FAME berbasis kelapa sawit) dan 50 persen solar fosil; peningkatan kandungan biodiesel sebesar 10 poin persentase dari B40 menuntut kapasitas rantai pasok yang lebih besar, sehingga reaktivasi pabrik 600.000 ton Agrinas Palma menjadi bagian dari upaya penambahan kapasitas domestik.
Sumber: