Saham Emiten Sawit Menguat di Tengah Karhutla Kalimantan, Pengamat Sebut Faktor Ganda

Saham industri kelapa sawit Indonesia naik, menunjukkan tren positif dengan potensi dividen menarik bagi investor.
Saham perusahaan sawit menguat saat karhutla di Kalimantan, namun pengamat mengatakan kenaikan dipengaruhi oleh harga CPO, kebijakan biodiesel dan sentimen global, bukan hanya kebakaran.
(2026/08/23) Sejumlah saham perusahaan kelapa sawit menguat di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, tetapi penguatan itu dipengaruhi oleh kombinasi faktor pasar, bukan semata peristiwa kebakaran.
Pengamat pasar saham Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Venus Kusumawardana mengatakan pergerakan saham dipengaruhi berbagai faktor termasuk harga crude palm oil (CPO), sentimen global, prospek industri, kebijakan pemerintah, dan ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan. "Jangan langsung menyimpulkan bahwa naiknya saham ini gara-gara kebakaran. Naiknya saham itu banyak faktor," ujar Venus kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026).
Venus menjelaskan satu faktor penting adalah pergerakan harga CPO karena gangguan produksi dan pasokan berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas tersebut, yang kemudian bisa menjadi sentimen positif bagi perusahaan dengan kapasitas produksi dan sumber pasokan tersebar. Namun ia juga menegaskan dampak kebakaran tidak selalu positif jika kebakaran tersebut merusak perkebunan atau mengganggu operasi perusahaan, karena hal itu dapat meningkatkan risiko kerugian dan menekan kinerja emiten.
- Harga CPO Menguat di Bursa Malaysia, Harga TBS Sumut Sentuh Rp4.074/kg (29 Agustus 2026)
- Harga CPO KPBN Naik, Bursa Malaysia Menguat Sejalan Kenaikan Minyak Nabati Global (12 Juni 2026)
- Harga Sawit Riau Meningkat, CPO Jadi Penopang Ekspor di 2026 (14 April 2026)
- Harga TBS Sumut Mendekati Rp4.000, Seruan Tarif Toleransi Mengemuka (23 Juli 2026)
Dalam penjelasan operasional, Venus meminta investor memperhatikan lokasi aset dan diversifikasi wilayah produksi setiap perusahaan; perusahaan dengan area produksi yang tersebar memiliki peluang mengompensasi gangguan produksi di satu daerah dengan hasil dari wilayah lain. Selain itu, ia menyebut kebijakan pemerintah terkait pengembangan biodiesel, termasuk rencana peningkatan bauran biodiesel B50, merupakan bagian dari sentimen yang dapat meningkatkan kebutuhan CPO domestik.
Venus menambahkan pengaruh pasar global juga signifikan karena CPO merupakan bagian dari pasar komoditas dunia sehingga pergerakannya tidak lepas dari sentimen komoditas global dan kondisi pasar saham secara keseluruhan. Ia menyoroti bahwa investor kerap masuk ketika ada harapan terhadap prospek jangka pendek, menengah, atau panjang, sehingga penting membedakan sifat kenaikan: apakah didorong oleh ekspektasi jangka pendek atau perubahan fundamental jangka panjang.
Untuk menggambarkan pergerakan harga saham, Venus mencatat saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bergerak dari sekitar Rp 5.875 pada akhir Juni 2026 menjadi sekitar Rp 7.338, sementara PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga menunjukkan penguatan setelah periode fluktuasi. Data pergerakan harga saham ini menurut Venus menunjukkan kenaikan tidak dapat dibaca hanya dari satu peristiwa pasar seperti karhutla.
Venus menegaskan kembali bahwa apabila kebakaran merambah ke area perusahaan maka dampaknya bisa negatif pada kinerja emiten, dan menyarankan investor untuk menilai eksposur geografis aset perusahaan. Ia juga menyinggung bahwa kebijakan biodiesel yang meningkatkan permintaan domestik CPO dapat menjadi katalis permintaan apabila direalisasikan, namun efeknya bergantung pada implementasi kebijakan dan kondisi pasokan.
Sumber: