BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Ekspor & Impor

Dinamika Pasar Kelapa Sawit Indonesia: Ekspor Meningkat, Harga TBS Turun

22 Februari 2026|Ekspor meningkat, harga TBS turun
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Dinamika Pasar Kelapa Sawit Indonesia: Ekspor Meningkat, Harga TBS Turun

Harga TBS kelapa sawit di Indonesia mengalami penurunan, terlihat dari buah sawit yang menumpuk rendah kualitas.

Pasar kelapa sawit Indonesia mengalami perubahan signifikan dengan kenaikan ekspor ke beberapa negara, sementara harga tandan buah sawit (TBS) menunjukkan penurunan.

Pasar kelapa sawit Indonesia memasuki tahun 2025 dengan dinamika yang menarik. Laporan terbaru menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit mengalami kenaikan signifikan, sementara harga tandan buah sawit (TBS) mengalami penurunan. Menurut data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor minyak sawit pada Oktober 2024 tercatat melonjak ke sejumlah negara tujuan utama.

Kenaikan ekspor ini terlihat khususnya ke India, yang menjadi destinasi utama dengan peningkatan jumlah yang luar biasa dari 242 ribu ton pada September menjadi 719 ribu ton pada bulan Oktober. Selain itu, Uni Eropa menyusul dengan kenaikan dari 230 ribu ton menjadi 294 ribu ton, diikuti oleh Pakistan yang bertambah dari 174 ribu ton menjadi 237 ribu ton. Peningkatan juga terlihat di Timur Tengah, Bangladesh, dan Malaysia, sementara ekspor ke China dan Amerika Serikat mengalami penurunan.

Di sisi lain, harga TBS di Riau mengalami penurunan yang signifikan. Untuk periode 25 Desember 2024 hingga 7 Januari 2025, harga TBS tercatat sebesar Rp3.614,47 per kg, turun sebesar Rp184,52 per kg dari harga sebelumnya yang mencapai Rp3.798,99 per kg. Penurunan ini terutama terjadi pada kelompok umur sembilan tahun, yang mengalami penurunan tertinggi sebesar 4,86 persen. Penetapan harga ini dilakukan berdasarkan hasil kajian dari PPKS Medan.

Melihat ke depan, prospek harga Crude Palm Oil (CPO) di tahun 2025 akan sangat bergantung pada permintaan dari China dan India. Analis mengingatkan bahwa potensi penurunan permintaan dari kedua negara ini dapat membebani harga CPO. Inflasi yang terjadi di Amerika dan penguatan dolar AS juga berpotensi menekan permintaan CPO. Meski demikian, ada harapan bagi harga CPO di awal tahun 2025, didorong oleh meningkatnya kebutuhan pasar menjelang tahun baru Imlek.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mencatat bahwa pergerakan harga CPO akan tetap mengikuti hukum pasar, tergantung pada faktor pasokan dan permintaan. Output dari Indonesia dan Malaysia sebagai penghasil utama akan menjadi faktor penentu, terutama dengan adanya program B35 menjadi B40 yang akan dilaksanakan mulai Januari 2025. Hal ini diperkirakan akan mempengaruhi pasokan dan, pada gilirannya, harga CPO.

Dengan berbagai dinamika ini, pasar kelapa sawit Indonesia menunjukkan potensi yang besar, meskipun tantangan tetap ada. Kenaikan ekspor memberikan sinyal positif, tetapi penurunan harga TBS dan ketidakpastian permintaan dari negara-negara besar seperti China dan India perlu diwaspadai. Para pelaku industri diharapkan dapat beradaptasi dengan perubahan ini untuk memaksimalkan keuntungan di pasar global.

Sumber:

  • Ekspor Minyak Sawit ke Beberapa Negara Naik Signifikan pada Oktober 2024 โ€” Info Sawit (2024-12-26)
  • Harga TBS Riau Mengalami Penurunan Sebesar Rp184,52 per kg โ€” Sawit Indonesia (2024-12-26)
  • Prospek Harga CPO di 2025, Andalkan Permintaan dari China dan India โ€” Kontan (2024-12-26)
  • Disokong Permintaan Imlek, Harga CPO Diprediksi Bulish di Awal 2025 โ€” Kontan (2024-12-26)